Formalitas dan Simbol yang Basi Mendominasi Masyarakat yang Tak (Mau) Maju!

Nurani Soyomukti, Pengamat Sosial dan Pegiat Literasi
Nurani Soyomukti, Pengamat Sosial dan Pegiat Literasi

JATIMTIMES, BLITAR18 OKTOBER 2016 

Orang sini memang aneh. Liberal, gak ada batasan. Imajinasi tumpul, tapi berbuat sesukanya tak dibatasi.

Tahu sendiri kalau dalam iklim kebebasan dipenuhi orang-orang tak punya imajinasi dan tak bisa berpikir, situasi memang cenderung akan rusak. Dan kerusakan tak dirasakan, karena tak sadar kalau rusak itu tadi. Tapi nuduh negara Barat sana liberal, padahal di sana banyak aturan dan ditaati.

Di sini orangnya gengsian juga. Makanya tidak maju-maju. Misalnya, saya sering diledekin sama orang sini yang mikirnya aneh. Di antaranya bilang, "Wong pejabat publik kok kemana-mana naik motor". Aneh nggak? Menurutku aneh.

Satu hal lagi, pernyataan gini, "Kok masih mau-maunya kumpul sama anak-anak muda, repot-repot bikin kegiatan ini itu, gak dapat apa-apa, malah nghabiskan uang". Aneh kan?

Ya di sini orangnya imajinasinya terbatas, feodal. Memandang orang bukan dari otentisitas seseorang lagi. Makanya tak maju-maju. Memandang sesuatu dari sisi yang kosong, hal yang bermakna dipandang dari sisi simbol dan formalitas. Ukuran kepantasan dilihat dari cara yang amat kuno dan feodal, hal-hal yang sudah ditinggalkan di negara-negara maju.

Lihat saja, di negara-negara maju kepemilikan mobil dan sepeda motor dibatasi sekali, salah satunya dengan meningkatkan pajak yang amat tinggi. Di sini, ukuran kemajuan anak-anak desa adalah kalau punya sepeda motor ninja dan Vixion. Itupun ada yang didapat dari kerja dua tahun mati-matian, pulang dibelikan motor itu. Habis itu di rumah nganggur, gak bisa kerja. Beberapa bulan lagi motor dijual, lalu merantau lagi, Aneh kan?

Ya di negeri ini tampaknya, punya uang Rp 500 ribu bisa dapat motor. Di sini pula, orang kaya tingkat desa punya mobil 5 buah, tapi yang dipakai cuman satu. Lainnya hanya dipajang agar tampak kaya dan kuat. Di sinilah, eksistensi diri orang kadang didasari pada ukuran dangkal dan simbolis itu tadi.

Di Jepang, anak-anak sekolah itu hampir semua naik angkutan umum. Sekolahnya jauh dari rumah, tapi mereka berani berangkat sendiri. Sekolahnya ditaruh di daerah gunung-gunung. Di sini gimana? Kalau sekolah naik angkutan identik dengan anak-anak orang miskin, jadinya malu.

Di sini ini, mentalitas lebih memang lebih rusak daripada negara dan masyarakat lain. Moral dan agama hanya simbol. Tiap acara dimulai dengan doa dan ditutup dengan doa. Sementara doa itu katanya menyimpan harapan. Tapi perubahan  tak terjadi...

Karena apa? Ya karena formalitas dipuja mirip dewa. Sesuatu dipantas-pantaskan menurut ukuran kosong, ya simbolis dan formalistik itu tadi. Acara diklat dan bimbingan teknis yang seharusnya intensif, malah jamnya dimakan sama seremoni, sambutan-sambutan gak menarik apalagi, juga doa doa pembuka dan penutup itu tadi.

Formalitas dan simbol didewakan. Ijazah tak perlu didapat karena proses belajar intensif, tapi bisa beli. Proses belajar abal-abal dan formalitas dijalani. Nilai adalah hasil manipulasi.

Mentalitas dan cara pandang kita memang perlu di-REVOLUSI!***

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Abdul Hanan
Sumber : Blitar TIMES
  • Melihat Batik Khas Desa Tlogo Kabupaten Blitar, Keunikannya Diminati Warga Australia

    Batik merupakan budaya warisan nenek moyang Indonesia. Dan hampir setiap daerah di Indonesia punya batik yang berbeda-beda pola dan motif gambarnya.

  • Pilkada, Azan Pun Jadi Persoalan Bagi Bawaslu

    Ada yang menarik dari paparan yang disampaikan Bawaslu Provinsi Jawa Timur dalam sosialisasi Pengawasan Pemilu Bagi Ormas, LSM dan media. Komisioner Bawaslu, Aang Khunaifi memberikan contoh adanya calon yang melakukan azan dan ditayangkan di sebuah media.

  • Karena Foto, Panwaslu Tulungagung Putuskan Tiga ASN Bersalah, Kadis Tidak

    Tiga ASN di lingkup Pemerintah Kabupaten Tulungagung dinyatakan bersalah oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Tulungagung.Tiga ASN yang terdiri dari dua Camat yaitu Camat Sumbergempol dan Camat Ngunut serta seorang Kepala Bidang (Kabid) di Di

  • Jalur On The Spot Pakusari, Masuk Penilaian OK BOS Dirlantas Polda Jatim

    Jalur tengkorak timur terminal Pakusari tepatnya di depan PTPN Kebun Kertosari Pakusari Jember jadi penilaian kegiatan “Open Karo Black On The Spot” (OK BOS) Daerah rawan kecelakaan lalu lintas (Blakcspot) dari Direktorat Lalu Lintas Polda Jatim. Jalur di

  • Coba Gaya Foto OOTD Dengan Bantal

    Tidak bisa dipungkiri, gaya foto di media sosial Instagram jadi bukti eksistensi diri. Banyak cara eksis di media sosial. Salah satunya adalah mengunggah foto OOTD (Outfit of the Day) yang menarik. Buat kamu kawula muda, pasti dong tidak ingin tampil itu-

  • KPU Batu Mudahkan Pemilih Disabilitas

    Komisi Pemilihan Umum Kota Batu memberikan perhatian khusus kepada para disabilitas di Kota Batu untuk pelaksanaan coblosan Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018, pada Juni mendatang.

  • Suket Khusus Untuk Nyoblos Pilkada Dicetak Mulai 20 Mei

    Calon pemilih yang belum memiliki KTP elektronik tak perlu khawatir untuk menggunakan hak pilihnya. Karena untuk pilkada 2018, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Blitar bekerjasama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) menerbi

  • Tingkatkan Mutu Pendidikan Pemkot Latih 1.343 Kepala PAUD

    Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pendidikan (Dispendik) terus berupaya meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Surabaya. Salah satunya dengan menggelar kegiatan workshop kemampuan kepada para guru pendidik PAUD (Pendidikan Anak Usia Di

  • Tekan Angka Kriminalitas, Sita Ratusan Botol Miras

    Sedikitnya, 13 krat miras berbagai ukuran dan merek diamankan petugas saat razia, Senin (23/4) malam kemarin. Selain itu petugas juga mengamankan 4 pemandu lagu yang sedang menemani pengunjung di salah satu tempat karaoke. Petugas juga mengamankan 4 unit

  • Pasangan Calon SAE Pilih Kampanye Senyap

    Pengerahan massa dalam jumlah banyak tidak selalu dilakukan pasangan calon kepala daerah. Seperti halnya yang dilakukan pasangan Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko (SAE).

  • Tanah Kavling Warga Dijual Oknum Pensiunan Lurah

    Pensiunan PNS Pemkot Probolinggo, diduga telah menjual tanah milik warga. Tanah kavling berukuran 5 X 22 meter yang berlokasi di Jalan Letjen Sutoyo Gang II, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, milik almarhum Ali Sumar orang tua Nur Eva Arimami (

  • Malaikat Maut Kembali Jemput Tiga Pemabuk Di Surabaya

    Korban terus berjatuhan akibat minuman keras (Miras). Sebelumnya tiga warga Pacar Keling, Kecamatan Tambaksari tewas akibat menenggak miras. Terbaru, dua nyawa melayang diduga kuat karena miras oplosan.

Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top