Serial Cerpen Bersambung (7)

Serial Cerpen Bersambung (7) Parak Pagi, Aku Merindumu*

Ilustrasi cerbung (istimewa)
Ilustrasi cerbung (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Parak Pagi, Aku Merindumu*
dd nana

-Ingatan Padamu- 
Berapa puluh tahun aku bertahta ? Berapa ratus juta jiwa ku jadikan tumbal kuasa. Aku tak pernah menghitungnya.

Tak pernah mengingatnya berlama-lama. Mungkin, karena terbiasa. Laik, kita makan, minum, bercinta.

Ya, aku terbiasa dengan anyir darah, bunyi retak tulang, leleh darah dan tinja yang keluar bersamaan saat orang-orang sekarat.

Begitu terbiasa, sehingga apa-apa, wajib diiringi simfoni sakit dan kematian.

Orang-orang semakin menggigil. Takut yang sangat. Mereka, diam-diam menyebutkan tuan yang gila.Tuan yang sangat gila. 

Seperti ucap lelaki dengan aroma mulut kamboja, dalam mimpiku.

Ucapnya, sedikit lagi sempurna kau menjadi tuhan. Tuhan yang tidak seimbang.

Tuhan yang gila. Sangat  gila. Karena kau sedikit lagi akan bercita-cita menjadi Tuhan. 

Hentikan semua itu, karena aku masih menyayangimu. Sebagai manusia.

Sebagai kawan sepermainan, dulu. Bukankah kau masih memiliki rindu? Rindu yang mendengung, lirih, dalam kepala dan dadamu. Rindu atas suatu nama. 

Betapa, mimpi itu begitu lekat. Kuat. Mimpi, yang membuat pagiku, menjadi jernih. Hening. Suwung.

Bahkan, ini tubuh yang semakin tambun, tak lagi kurasa. Tiada. Hanya rasa yang meraja.

Dengung yang berulang-ulang. Serupa detak jantung. Semua dengung. Menjadi dengung. gung, gung, gung, gung...terhenti pada sebuah nama.

Nama yang mendesis. Nama yang melata dalam ingatan. Sebuah nama. Seruah racun dalam kuasaku. Ular. 

Ah, lelaki dengan aroma mulut kamboja, bicaralah. Beri aku pertanda. Aku merindukan pemilik nama itu.

Aku yakin dengan pemahamanmu, kau mengenalnya. Beri aku peta.

Dimana pemilik nama itu. Aku rindu.  
Penggal lehermu. Dia yang akan menemukanmu.
Maksudmu? 
Kriiinggggg!!!!
Ya? 

 …kuasa tuan gemeretak disengat tawon-tawon muda yang entah dilahirkan dari apa. 
Kriiingggg!!!!

Tuan mengungsilah dahulu dari kota. suasana tidak terkendali.

Kerajaan membara, terus berdesakan ke pelosok-pelosok siaga I. siaga I…tuan dipaksa turun dari tahta.
Gemeretak. Tawon muda. Mengungsi. Tidak terkendali. Siaga I.

Turun dari tahta. Genderang perang. Hahahahahaha....untuk apa aku berlari, bersembunyi. Tidakkah kalian membaca sejarah? Titah, kehendak, tak bisa dihindari. Ia serupa kematian.

Dan, terus terang aku sudah sangat bosan dengan semua itu. Jangan ganggu rasa rindu ini. 

Please, beri aku Peta! Beri aku peta, lelaki dengan aroma mulut kamboja. Kau, sangat tahu aku tak pernah meminta dengan sangat terhadap manusia.

Tapi ini berbeda. Aku melata. Meminta kepadamu. Kumohon, aku merindukan nama itu.

Penggal lehermu… ini waktu yang tepat untuk menebus segala yang telah berlalu. Tawon-tawon muda itu semakin dekat ke istana bersama jutaan masa. 

Penggal lehermu sebelum mereka mencincangmu.
Bagaimana dengan nama itu ?
Dia akan menemuimu….

Apakah kematian akan mengantarku kehadapannya? 
Kematian seperti apa yang akan membukakan pintu atas nama itu?

Bunuh ragamu. Sendiri. 
Kriiiiiingggggggggggggg...istana telah dikepung dan nyala api telah berkobar dimana-mana. Selamatkan diri tuan. Mereka haus atas darah tuan.

Aku lelaki, maka hidup dan matiku harus aku pilih sendiri. Maka, aku pilih resital bunuh diri.

Sebelum  gelap sempurna, masih kudengar suara patah leherku, begitu kering, dan seulas senyum perempuan. Samar.
Kaukah itu….?
1998. segala yang berbeda, segala yang menohok mata, adalah musuh bersama. Api meraja di kota-kota (bersambung).

Pewarta : Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top