Kapitalisme Pahala

Foto Google Images
Foto Google Images

JATIMTIMES, BLITAR – Yang merasa paling suci akan menganggap paling banyak pahalanya. Pahala akan diakumulasi seperti halnya kapital dikejar terus oleh penumpuk modal. Ada semacam monopoli terhadap pahala.

Pada kenyataannya  kesempatan untuk beroleh pahala itu terbatas. Orang kaya akan gampang berderma membagi bagi makanan dan uang, pahalanya konon akan banyak dengan cara itu.

Sedangkan yang modal "ilmu"-nya paling banyak, ulama dan ustadz, yang salah satunya diperoleh dari modal modal untuk mendapatkan pendidikan sebelumnya, juga dianggap paling punya banyak pahala dengan cara berdakwah dan menyebarkan ilmu dan moral.

Mereka tampil di TV-TV dan selain dapat pahala banyak, juga dapat amplop tebal. Para kaum muda yang beruntung juga dapat pahala dari bagi bagi Takjil. Tapi apakah semua orang dapat kesempatan yang sama untuk beroleh pahala?

"Banyak cara memperoleh pahala, orang miskinpun bisa mendapatkan banyak pahala", kata seorang ustadz. Bagaimana caranya? Yang sering kita dengar adalah bahwa kalau tak bisa dilakukan dengan harta, lakukan dengan tenaga. Kalau gak bisa dilakukan dengan tenaga, lakukan dengan doa.

Sayangnya, sesuatu yang tak material memang tak bisa dinilai oleh manusia-manusia yang sudah terlanjur hidup dalam dunia nyata. Di dunia nyata ada kebutuhan dan keinginan yang harus dipenuhi. Pemberian suatu materi untuk pemenuhan kebutuhan pasti amat lebih dihargai, amatlah nampak.

Jika cari pahala adalah dengan tenaga, apakah tenaga ini dilihat sebagai pahala? Sedangkan tenaga sendiri lebih banyak dihabiskan untuk kepentingan mencari materi. Kerja orang miskin jelas untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan.

Sedangkan orang kaya yang berada di puncak bisa jadi hanya ongkang-ongkang kaki atau plesir mencari kesenangan, pada saat keuntungannya terus mengalir dan hasil keringat banyak manusia mengalir untuk penumpukan kekayaannya.

Jika mencari pahala dengan doa, bagaimanakah seharusnya isi doanya. Pahala doa tidak sama dengan memberi dan berderma. Ataukah kita suruh mereka cari pahala dengan cara mendoakan orang yang sudah kaya agar terus kaya. Ataukah doa untuk diri sendiri, dengan permintaan agar diberi rejeki dan keselamatan. Sedangkan rejeki sendiri diperoleh dari hubungan nyata dengan yang lain.

Maka jujur harus diakui kesempatan dan peluang mencari pahala sudah menyempit bagi kebanyakan orang miskin. Sedang orang kaya mengapling kesempatan untuk mendapat pahala.

Belum lagi pahala juga dikapitalisasikan. Semakin melakukan kebaikan, misal dengan cara memberi, maka justru keuntungan meningkat. Anda tahu, membuat acara kuis berhadiah tunai pada saat sahur dengan memberi pertanyaan remeh-temeh pada pemirsa memang disadari oleh manajer pemasaran produk untuk meningkatkan omset penjualan.

Kita memang berada dalam masyarakat kapitalis yang penuh kontradiksi. Ini masalah kita semua. Kita semua yang menanggung efeknya.

Dengan membuat penjelasan dan pemaknaan seperti ini saya bukan bermaksud sok suci. Karena saya dan anda juga menjadi bagian dari lingkaran setan modus keberagamaan yang dicengkeram oleh tatakelola dan ideologi kapitalisme ini.(*)

Pewarta : Nurani Soyomukti
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top