PUISI PENDEK (5)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – PUISI PENDEK (5)

*dd nana

-Bersama waktu melarungkan rindu nafas kita menjadi perahu; ruang tamu yang begitu sesak oleh cerita, kecup, dan peluk 
bersamaku, kau jelma hawa yang tidak ragu
dan aku, adam yang bersekutu dengan waktu dengan batu
kelak, waktu yang kita larungkan, bukan begitu, cinta?

-Mengantarmu. jarak dan waktu terasa hening di telinga. maka, biarkan ku simpan tatap mata dan senyummu. diingatan yang terbening. aku rindu.

-Sejak puisi lahir dari rahim matamu. aku tak lagi mampu menghalau sihirmu.
sempurna, menyelami kebeningan cinta di sepasang matamu.
kembali rindu.

-Hikayat rahsa: kemana perahu ini akan berlayar ?
peta rasa di kulit raga memang telah terbuka. selalu sempurna dimataku.
tetapi waktu selalu menjadi belati bermata dua.
bukan begitu pemilik cahaya rindu ?

-Hikayat rahsa: dititik kelam. seorang lelaki berupaya menjelma kupu-kupu. dilakukannya peralihan demi peralihan. sekedar ingin menjadi indah. meski ia tahu, wujudnya akan kembali melata, setelah itu.
maka, dirangkailah malam, gelisah, rindu, doa, pada titik malam yang menganugerahkan keterjagaan.
Sungguh, ia ingin terlihat indah di mata perempuan yang dicintainya. meski ia tahu juga, peralihan demi peralihan adalah sakit diraganya.

-Maaf. dan lelaplah dalam selimut doa. Di sini, tugu itu menjaga meski cahaya yang diberikannya, hanya sekedar pendar, sekedar garis liris. tugu itu selalu ada. menjadi penjaga perahu rahsa.

-Sekarang, aku masih tugu. mendekap rindu. Didekap waktu.
Dan kau, tetaplah semesta yang menutupiku.
jarak kita, cinta, terkadang sungguh terlalu.

-Terkadang, rindu melarungkan nafasnya. sendiri.
menuju samudera hati.

-Terkadang, sang Maha Rindu, begitu rindu kepada para perindu. maka, diterakannya kisah bercecabang dalam kulit waktu. dan aku, masih di tepi jalan itu.
memantrakan rindu.

-Terkadang, rindu semacam sayap malam. perkasa dengan pekatnya. angkuh sekaligus rapuh dalam kenyataan-kenyataan. dan aku, tak pernah usai mengecupnya.

-Terkadang, rindu seperti sengat matahari. memberimu rasa hangat yang menentramkan. terkadang pula jelma amok badai yang memutihkan sepasang mata. dan aku, selalu saja kalah.
Di kaki rindu itu.

-Terkadang, rasa rapuh ini, mengingatkanku. aku masih lelaki biasa. yang dijubahi rindu semata.


...kenangan tak pernah retak, sayang. ia hanya berubah warna. menjelma lebih legam dan dalam. Ingatanlah yang sering goyang menyampaikan rupa prasangka...

Pewarta : Nana
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top