Puisi Pendek (6)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Puisi Pendek (6)
dd nana

Merayakan Diam


'Bahkan jika aku tak lahir, puisi harus ada. Sebab apa yang puisi persiapkan adalah suatu keharusan cinta'. (Paz )


- Karena mencintaimu, aku memilih sunyi yang tak pernah bisa kau mengerti.
- Kemana perginya puisimu. Matamu bertanya pada gelas berisi kopi pekat yang menggigil sejak dini hari, tadi.
- Matamu mantra yang kini membuat ku tabah mengasuh segala peristiwa.
- Jangan masuk dalam sengketa, saat kita belum berdamai dengan diri kita sendiri. Secangkir kopi meriuhkan pesan pada tubuh aksara.
- Inilah cinta, kata diam mu yang jauh. Mungkin ini cinta, kataku yang luruh. Cinta yang sunyi agar mereka tidak menghardik kita lagi.
- Sebenar-benarnya percakapan, mungkin yang sedang kita jalani ini. Sama-sama tanpa suara dan saling menunggu. Di kepala kata-kata menyalak riuh.
- Apa senja yang telah ku bungkus lewat kata-kata, telah kau simpan rapi di laci mejamu, puan?
- Mari saling memunggungi dan menjauh, biar tuhan saja yang tahu, dada siapa yang paling tabah.
- Aku tak ingin kelak, yang kau gambarkan serupa hangat ruang tamu yang kau sebut dada.
- Aku burung yang lama lupa atas kepak. Sedang kau masih saja begitu jauh untuk diringkas langkah.
- Pada aksara yang berebut dan tercerabut, kesadaran serupa lampu di jalanan; parak pagi yang menggelisahkan.
- Aku masih puisi dan kau tak lagi sepi. Mari reguk saja sisa kopi malam ini.
- Ku sapa puisi itu disela lantunan takbir. Siapa namamu? Aku adalah aksara yang tak pernah kau beri cahaya, jawabnya.
- Kutemukan seekor puisi yang cantik malam ini dengan t-shirt hitam bertulisan "tidur lebih baik daripada menungguku. "
- Cinta ditanamkan di bilik hati dengan titah yang pasti; tujulah belikatmu yang hilang dalam puisi awal yang kau cipta.
- Sudah sepi sayang, tak ada lagi nubuat untuk mata malammu. Tidurlah
- Raga itu fana, maka rindu begitu jumawa.
- Dimana tuhan disisa malam ini, aku menantinya. Dengan secangkir kopi dan sepi yang berurat ayat-ayat dalam kitab yang ku baca.
- Bahkan, ayat-ayat dalam kitab, tak mampu meredakan demam rindu ini.
- Akhirnya, dalam pejam yang lelap, aku bisa lari. Walau sesaat, walau sekelebat.

Pewarta : Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top