Puisi Pendek (8)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Puisi Pendek (8)

dd nana

Syahwat yang Menyepi, Suci ?

- Cermin-cermin meretak pada siang ini. Serpihnya serupa aku yang hingar sebelum lantai keramik itu memeluknya. Sepi.

- Ujung dari ujung, sebaris aksara mendaras penciptanya. Begitu sengit dan sangit di hidu sepi.

- Cintaku, pernah jelma sebatang pohon di pelataran rumahmu. Sendiri dan di huni segala renik musim.

- Butuh kamu yang terus menggodaku agar faham raga tak selalu tabah menghadapi cuaca.

- Untuk persetubuhan yang paling sengit, kita rela menukarnya dengan usia. Percayalah.

- Ranjang yang sunyi, serupa puisi yang tak mengakrabi dirinya sendiri. 

- Cukuplah peristiwa dibekukan. Bahkan sebuah kecupan paling gegas pun lebih rajin merawat hangatnya.

- aku adalah pukul 5 sore yang mengajakmu berjalan-jalan ke ujung sajak ini; rumah-rumah yang menjauh dan tak memiliki ibu.

- Segala menyepi. Segelas kopi, beberapa kalimat serupa puisi dan ingatan-ingatan yang mulai pasi. Semoga syahwat kecil kita dihindarkan dari segala keinginan yang menghilangkan.

- Semoga yang Maha Syahwat masih mencintai syahwat kecil kita.

- Maka, pada pagi, mari kita terus menyalakan api syahwat ini. Agar terus bara dan tak padam di tahun depan.

- Selamat pagi, Pagi. Semoga beberapa hari ke depan kita masih bergairah untuk bercinta. Lagi.

- Kau, mencatatnya sebagai yang silam. Aku membacanya sebagai titik-titik yang harus diusaikan.

- Takdirku, mencintaimu tanpa tepi walau kau anggap ini mimpi.

- Pada bibirmu, selalu, puisi tertidur dengan tenang. Hanya lenguh yang di dengar musim penghujan.

- Pada awalnya, pelangi itu cerita, dan kita bersikukuh menjelmakannya. Dalam riuh rindu yang dicipta waktu.

- Mungkin dengan kehilangan, kita akan paham. Kita telah sama-sama mencintai tanpa tepi, tanpa tapi.

- Ada yang lebih ganjil selain sunyi, dan itu kamu, cinta.

- Apa-apa selalu ada nuansa. Kenapa apa tidak dibiarkan saja sendiri. Ah kalian terlalu banyak apa-apa.

- Hujan dan angka-angka ganjil yang menancap pada gembur rasa. Masih kamu ternyata yang ada di dalam ingatan ini.

- Sore yang pucat dan secangkir kopi yang ditinggal pergi. Masih kuingat aromanya sampai kini.

- dan derak ranjang di kamar kita selalu menyampaikan kabar. Bercintalah, langit masih menjaga cahaya. Langit masih menunggu cerita kita.

- Mungkin, kau masih ingat. Sore dan aduh di bibirmu yang segera kupungut sebelum menjelma keluh

- Maka pada pahitmu yang menyerupai buah maja, selalu ada cerita yang membuatku jatuh cinta.

- Bibir kita saling memagut. Sepanjang hari, setanak sepi. Percayalah, kami telah berjanji untuk terus mengkhidmatinya.

"Tapi dimana syahwat kita yang riuh itu, kekasih. Menepi dan bersunyi atau mengaduh lagi dalam cerita lain. Masihkah suci?".

Pewarta : Nana
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top