Perempuan dan Materi

Ilustrasi.(Foto : google images)
Ilustrasi.(Foto : google images)

JATIMTIMES, BLITAR – Ada yang bilang materi tidak penting. Tapi nyatanya setelah cerai juga ada sidang membahas “gono-gini”.

Ada yang bilang materi tidak penting, tapi juga ada perempuan yang bilang bahwa salah satu sebab mantan suaminya menjengkelkan adalah karena tidak bisa memberikan materi (nafkah lahir).

Ada yang bilang materi tidak penting, tapi para “jomblo ngenes” (Jones) yang tak punya nyali “nembak” cewek salah satunya juga karena tidak PD karena mengira ia takut ditolak karena tak punya penghasilan dan pekerjaan.

Ada yang bilang materi penting, tapi pasangan yang kehidupannya berkecukupan juga berujung perceraian. Ada yang bilang materi penting, tapi ternyata tak semua orang bisa disogok dengan materi.

Ada yang bilang materi penting, tapi ada perempuan cantik yang menolak dilamar laki-laki kaya dan tetap bertahan dengan hubungan dengan pacarnya yang jauh lebih miskin daripada si laki-laki kaya. Ada yang bilang materi penting, tapi saya melihat ada teman yang menolak dijadikan PNS oleh bapaknya yang pejabat dan ia memilih jadi aktivis pemberdayaan.

Ada yang bilang materi itu penting. Ada yang bilang bahwa ada yang lebih penting dari materi. Ada yang merasa kosong hidupnya meskipun berlimpah materi. Ada pula orang yang terus saja bangga dengan kepemilikan material secara membabi buta. Jadi, mana yang tepat, penting atau tidakkah materi itu?

Tentu jawabannya tidak tunggal. Tergantung pada posisi dan keadaan seseorang, juga cara pandang seseorang. Kita harus melihat konteks bagaimana seseorang bisa melihat materi dalam kehidupannya. Ada konteks ruang dan waktu. Ada batas-batas kondisi yang membedakan kondisi satu dengan kondisi lainnya yang melahirkan selera dan penilaian yang berbeda.

Dan harus kita bongkar asumsi-asumsi tentang materi dan hubungannya dengan seseorang yang memiliki atau menginginkannya. Jangan-jangan kita hanya berasumsi saja. Jangan-jangan kita menilai secara tidak adil. Suatu misal, ada seorang teman cowok yang menilai seorang perempuan yang mengatakan bahwa perempuan tersebut ‘matre’ (‘Cewek Matre’). Tentu kita harus melihat banyak sisi.

Ketika seseorang mengatakan tentang orang lain atau menilai, seringkali kita harus melihat konteks sejarah relasi hubungan orang tersebut dengan yang dinilainya. Ketika ingin menilai sesuatu, maka sumbernya tidak boleh dari satu pihak saja.

Dan agar lebih adil lagi, kita memang harus merunut sejarah hubungan antara keduanya. Atau bahkan juga merunut sejarah perkembangan hidup masing-masing agar tahu bagaimana dinamika psikologis dan struktur kognitif yang dibangun dari sejarah perkembangan hidupnya.

Sejarah yang berbeda akan membentuk kepribadian dan tingkat pemahaman yang berbeda-beda pula. Alkisah,....

Ada perempuan yang awalnya ingin dinikahi oleh lelaki kaya, karena menganggap materi itu amat penting. Mungkin si perempuan merasakan bagaimana susahnya hidup dengan kondisi serba berkesusahan dalam hal materi.

Perempuan itu memang berasal dari keluarga yang serba berkekurangan. Dalam kondisi serba kekurangan, maka obsesi terhadap materi yang bisa memenuhi kekurangan dan keinginan yang selama ini tak bisa diwujudkan menjadi besar. Obsesi dilindungi oleh lelaki kaya adalah keinginan rata-rata dari gadis perempuan yang hidup di dalam keluarga serba kekurangan.

Obsesi terhadap materi yang terwujud setelah obsesi itu berada dalam pikiran yang terlalu lama, kadang bisa mengendalikan cara berpikir. Misal, telah lama seseorang meyakini bahwa kekayaan material itu amat penting dan ia berharap sepanjang hidup agar kekayaan material itu penting sekali.

Pada saat yang sama, ia terus membangun asumsi bahwa kekayaan adalah suatu hal yang paling menjelaskan eksistensi diri. Maka, ketika kekayaan benar-benar didapat, ya hanya hal itulah yang akan menjadi kebanggaan. Makanya, kadang kita melihat beberapa orang kaya baru (OKB) yang antara pola berpikirnya dan kepemilikan materialnya timpang. Orang kaya yang pengetahuan dan cara berpikirnya jauh terbelakang dibanding banyaknya harta yang dimiliki.

Ketika seorang mendadak nasibnya berubah secara ekonomi menuju puncak dibanding yang lain, maka memang harus diiringi dengan perubahan cara pandang dan pemikiran. Agar ia tidak berpikir subjektif  terus yang dibawa dengan cara pandang lama. Agar masuk ke kondisi material yang baru tidak mengalami ketimpangan antara kesadaran lama dengan situasi baru.

Kesadaran baru biasanya memang lahir dari interaksi baru dengan realitas baru, dengan orang-orang baru. Interaksi dengan orang-orang baru memunculkan info-info dan nilai-nilai baru yang bisa diserap. Kontradiksi yang terjadi antara nilai lama dengan nilai baru kadang memenangkan nilai baru sebagai sebuah nilai yang dipegang, bisa karena penolakan terhadap nilai lama yang tak sesuai dengan realitas baru. Bisa pula karena yang lama memang begitu rapuh dan lemah.

Tak jarang ada para perempuan yang memilih tidak semata menjadikan materi sebagai hambatan untuk membuat mereka menemukan nilai-nilai baru. Pasti kita mengenal Kartini. Sosok dari keluarga Ningrat ini mengalami perubahan kesadaran dan memegang nilai-nilai baru dibanding para perempuan kebanyakan. Tentu ia tak berasal dari keluarga miskin.

Sedangkan contoh perempuan yang berasal dari keluarga miskin yang kemudian naik kelas karena dinikahkan dengan laki-laki kaya adalah Nyai Ontosoroh. Karena memang pernikahannya adalah dipaksa, maka memang sejak awal ia tidak tergoda dengan materi dan status suaminya yang merupakan pengusaha Bule bernama Herman Mellema.

Nyai Ontosoroh, yang awalnya bernama Sanikem, justru menemukan nilai-nilai pencerahan Eropa dan menjadikannya sebagai perempuan yang inspiratif—yang salah satunya membuat kagum Minke, Tirto Adhisuryo tokoh pergerakan dan pejuang pers pribumi yang cukup penting perannya kemudian.

Nyai Ontosoroh memang beda dengan sosok Wardah Hani dalam prosa Kahlil Gibran yang justru menolak bunuh diri bersama pacarnya di tengah malam setelah mengenakan gaun pengantin. Nyai Ontosoroh menolak dengan cara yang lain.

Ada contoh lain tentang bagaimana seorang perempuan yang dinikahi lelaki kaya justru memilih cerai dan berkiprah di dunia yang justru bertentangan dengan posisi si suami. Dialah Alexandra Kollontai, seorang tokoh Revolusi Rusia. Alexandra dalam sejarah gerakan rakyat dunia dikenal sebagai sosok perempuan berparas cantik, cerdas, tegas, dan mandiri.

Awalnya dia menikah saat usia muda dengan —melawan kemauan keluarga—dengan sepupunya, Vladimir Kollontai karena dipaksa oleh keluarganya. Tapi titik balik kesadaran muncul ketika pada tahun 1896 ia mendampingi suaminya Vladimir, seorang inspektur pabrik, dalam salah satu kunjungannya.

Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pabrik-pabrik itu sangat kotor dan bising, dan berbahaya. “Dan buruh-buruh yang kelaparan ini diperbudak hingga di luar batas kemampuan manusia,” katanya dalam catatanya.

Vladimir tak mempedulikan hal itu. Alexandra marah dan akhirnya bergabung dengan sekelompok sosialis dalam mendukung pemogokan buruh tekstil di St. Petersburg tahun 1896. Vladimir berusaha mencegahnya, Alexandra menangis kecewa dan memutuskan meninggalkan Vladimir, dan untuk sementara waktu meninggalkan anak laki-lakinya.

Sepertinya hal itu merupakan sebuah tindakan melanggar batas yang dilakukan laki-laki terhadap individualitas kaum perempuan. Artinya sebuah perjuangan berlangsung di seputar persoalan: kerja atau menikah atau cinta.

Dari contoh tersebut, pemberian berupa materi saja tak cukup dan bahkan bukan yang diinginkan perempuan. Terlalu salah bahwa menduga bahwa perempuan itu sama—yang duanggap bahwa semuanya adalah padanan dari harta dan materi.

Tak semua perempuan bisa dibeli dengan harta dan materi. Komunikasi dengan menggantikannya dengan materi saja tidak cukup. Kesalahan membangun hubungan dengan perempuan tak selalu karena materi. Bisa jadi karena komunikasi dan tiadanya nilai dan visi-misi yang berbeda. Bisa jadi karena karakter. *

Pewarta : Nurani Soyomukti
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top