Puisi Pendek (10)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Puisi Pendek (10)

dd nana

Terkadang Aku Meradang

- Dengan jiwanya, lelaki itu menancapkan belati yang dikilapkan getah surga. tepat di dada kiri. berkali-kali. Ini sekedar mengekalkan ingatan tentang persuaan itu.

- Menunggu luruhnya cahaya. di langit, burung-burung menjeritkan rindu atas senja yang ditunggu. sepertiku.

- Terkadang, rindu melarungkan nafasnya. sendiri. menuju samudera hati.

- Terkadang, sang Maha Rindu, begitu rindu kepada para perindu. maka, diterakannya kisah bercecabang dalam kulit waktu. dan aku, masih ditepi jalan itu. memantrakan rindu. Untukmu.

- Terkadang, rindu semacam sayap malam. perkasa dengan pekatnya. Angkuh sekaligus rapuh dalam kenyataan-kenyataan. dan aku, tak pernah usai mengecupnya.

- Terkadang, rindu seperti sengat matahari. memberimu rasa hangat yang menentramkan. terkadang pula jelma amok badai yang memutihkan sepasang mata. dan aku, selalu saja kalah. di kaki rindu itu.

- Terkadang, rasa rapuh ini, mengingatkanku. aku masih lelaki biasayang dijubahi rindu semata.

- Ada yang mengeluh. lirih dari kemarin. tertangkapkah itu?

- Ada yang mengaduh dari kemarin. terdengarkah itu?

- Ingatan. selalu begitu keras untuk dimamah. ajari aku untuk melunakannya. aku tak ingin bertikai, cinta.

- Rindu menyekap lesat waktu. memeramnya dalam ingatan berwarna merah dadu. dan aku, selalu menjelma rahasia di dadamu.

-Ada yang mengaduh. malam terasa begitu panjang hari ini. kau?

- Bersetia dengan malam. ruang perbincangan rindu yang terlalu. aku dan bayangmu.

- Meski cinta semakin mengada. kita, masih bayang-bayang, cinta. Bayabg-bayang.

- Aku telah merengkuhnya. mengecup segala luka yang berdiam terlalu sunyi di dada indahnya. 

-  Senja? sesekali kujumpai. sekedar untuk menggenapkannya radang rinduku.

-Hei! biarkan rasa ini jalang. berkembang. berupa lelaki malam. kelak, di matanya, lahir padang bunga. ruang merebahkan kepala tua kita.

- Mendaras aksara d itepi malam ini. mataku berkaca-kaca. sujudku untuk segala yang ditiupkan cinta

- Malamkan aku dalam dekapmu. dan ajari aku membuka belukar kuruksetra itu menjadi rahim anak-anak pelangi dengan tawa langitnya.malamkan aku, cinta.

Pewarta : Wartawan Malang TIMES
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top