Bodho Ketupat, Pedagang Kupat Sambat Sepi Peminat

Penjual kupat di sekitar Pasar Ngemplak yang mengeluh karena sepi pembeli (Foto : TulungagungTIMES)
Penjual kupat di sekitar Pasar Ngemplak yang mengeluh karena sepi pembeli (Foto : TulungagungTIMES)

JATIMTIMES, TULUNGAGUNGAcara wajib setelah datangnya lebaran adalah ketupat atau orang Jawa bilang Bodho Kupat yang sering dilakukan pada hari kelima lebaran atau yang sering disebut sepasaran. Seperti halnya tahun ini masyarakat Tulungagung kembali menggelar upacara Bodho Ketupat. Menyambut Bodho Ketupat banyak pedagang ketupat berjajar di sepanjang jalan di sekitar Pasar Wage dan Ngemplak. Ketupat yang telah jadi dijual dengan harga Rp 5. 000 hingga Rp 7.000 per ikat yang berisi 10 ketupat. Sayang penjualan ketupat tahun ini tak seramai seperti tahun lalu. Hal ini seperti dikeluhkan oleh salah satu pedagang ketupat yang berjualan di sekitar Pasar Ngemplak, Martun warga Mangun Sari.

"Sejak dari pagi 150 ketupat pun belum laku padahal tahun lalu sehari bisa jual seribu ketupat," ujar Martun
Martun menambahkan ketupat yang dijual merupakan buatan sendiri. Dirinya membeli janur dari wilayah Pagerwojo seharga Rp 30.000 yang dijadikan sekitar 50 hingga 60 ketupat
"Untuk  janurnya saya beli di wilayah Pagerwojo Rp 30.000 per papah yang bisa dijadikan sekitar 60 ketupat," ujarnya lebih lanjut.

Berbeda dengan Martun, Eko mengaku meraup untung untuk  penjualan ketupat tahun ini. Setidaknya Setiap hari dia bisa mengantongi Rp 400.000 hingga Rp 500.000 dari penjualan ketupat. Satu ikat ketupat yang berisi 10 ketupat dijualnya dengan harga Rp 7.000.

"Sehari paling tidak Rp 400.000 dari penjualan ketupat yang saya jual dengan harga  Rp 7.000 berisi 10 ketupat," ungkap Eko.

Senada dengan Martun, Eko mengaku membeli janur untuk pembuatan ketupatnya dengan harga Rp 30.000, namun Eko mengambil janur dari wilayah Blitar "Janurnya saya beli dari wilayah Blitar," ujarnya.

Salah satu pembeli mengatakan Lebih suka membeli kupat jadi lantaran dirinya tidak bisa membuat kupat sendiri "Lebih praktis belilah karena saya juga tidak bisa buat ketupat sendiri jadi lebih enak beli," kata Siti.

Siti menambahkan membeli ketupat dibuat hantaran ke tetangga- tetangga sebagai wujud kepedulian antara tetangga dan pengakuan minta maaf atau lepat.

"Kupat sendiri artinya  ngaku lepat atau ngaku salah jadi dengan saling menghantarkan kupat secara tidak langsung kita membangun rasa peduli terhadap tetangga sekitar," pungkas Siti.

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Angga .
Sumber : Tulungagung TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top