Puisi Pendek (13)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Puisi Pendek (13)

dd nana

Pasar Malam (yang) Kemalaman

:Tengoklah wajah kita disekaratnya pasar malam itu. Sepi mengguratkan sepia yang tidak lama lagi menjadi cerita-cerita yang mati.

1.  Sorot mata bocah-bocah itu masih jernih, serupa warna air telaga Al Kautsar. Menderas dan mendaras menggenangi malam yang masih saja memberikan gelapnya di lapangan sepak bola yang sebentar lagi berubah menjadi pertokoan modern. Mereka sabar menunggu lampu-lampu dari beberapa tenda dinyalakan. Sesekali mereka bergumum, “kenapa tidak main-main, ya?” lantas mencoret-coret tanah dengan ranting patah, menggambar singa berkepala domba.

Sayup, angin mengantarkan serapah dari para pekerja pasar malam yang ditunggu bocah-bocah bermata telaga Al Kautsar. “Sudah aku bilang jual saja rongsokan ini. Kita lebih beruntung jadi TKI saja atau jadi pengemis di perempatan jalan. Bisnis ini sudah sekarat dan sebentar lagi mati,”. Sorot mata bocah-bocah yang dari tadi menunggu mulai beriak. Dari mata itu, sebagian lahir burung-burung mungil. Keluar dan terbang dari garba mata para bocah. Hanya tiga atau empat kepakan, burung-burung itu jatuh dan mati di tanah yang sebentar lagi menjadi batu-batu pipih dan tertata sempurna. “Terlalu cepat kau lahirkan. Prematur. Matilah kau,”rutuk bocah berkaos superhero amerika.

Aku melihat waktu semakin pekat. “Sebentar lagi emak akan mencari kita. Pasar malam masih saja gelap,”ujar beberapa bocah. Di mata mereka gelombang air mata mulai berkecambah. Entah kenapa aku melihatnya serupa laut merah di cerita para nabi.

2. Sayup aku mendengar gemeretak mesin dari permainan kursi putar. Yang berputar berkali-kali untuk memompa adrenalin orang-orang yang menaikinya dengan membayar lima ribu rupiah. Jangan kau berpikir permainan ini serupa flying dumbo atau rool-coaster di arena wisata yang akan mengurus uang kerjamu seharian itu. Aku ingat, para penumpangnya yang diajak berputar, membisu dengan wajah datar. Serupa paras para bocah yang dari tadi menunggu pasar malam kembali diterangi lampu-lampu sekedarnya. “Waktunya pulang. Besok kita kembali menjadi anak-anak penurut. Bangun pagi, sembahyang, mandi dan berangkat ke sekolah,”lirih bocah bermata rajawali yang di sepanjang hari, nanti, menjadi merpati.

3. Bocah-bocah bermata air telaga Al Kautsar itu, satu persatu mulai beranjak pergi. Sebentar lagi lapangan itu hanya akan berbisik-bisik kepada para pejalan malam yang tersesat. “sudahlah, mari kita rayakan kekalahan. Dengan cekikikan para wanita malam dan air racikan yang bisa melupakan perihnya kekalahan kita,”kata seorang pekerja dengan raut wajah malam.

“Tapi aku selalu dihantui sorotan mata para bocah itu, tuan. Yang percaya bahwa segala rongsokan kuno ini bisa membuat mereka merdeka walau dalam hitungan jam,”jawab kuli angkut di pasar malam.

3. Suara adzan subuh memasuki telingaku. Lapangan itu, Rahim yang melahirkan pasar malam, dulu, entah bagaimana caranya terlihat benderang di mataku. Berkilau dengan berbagai permainan kanak-kanak yang menggembirakan. Aku terpesona dan ikut larut dalam gemerlap pasar malam. “Bangun wahai perawi, pasar malam yang kau tunggu sudah di nisankan oleh bocah-bocah itu sedari tadi,” teriak penjaga wilayah, tepat di telingaku.

:Terkadang, kita membutuhkan mimpi walau akhirnya kita terbangun dengan nyeri.

Pewarta : Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top