Kades Manding Manfaatkan "Ritual Telanjang Dada" Tarik Wisatawan

Sumari Kepala desa Manding Pucanglaban / Foto : Tulungagung TIMES
Sumari Kepala desa Manding Pucanglaban / Foto : Tulungagung TIMES

JATIMTIMES, TULUNGANGUNG – Kepala desa Manding Pucanglaban, Sumari membenarkan adanya ritual mandi payudara,namun jaman sekarang karena keberhasilan pemerintah desa mengalirkan air ke rumah warga, ritual itu sudah tidak marak seperti dulu. 

"Sekarang mandi di rumah, yang kesana masih ada tapi ya sudah jarang," kata Sumari. 

Sumari mengaku juga tidak paham betul sejarah asal masal ritual. Yang dia tau danyang (penunggu) umbul merupakan Nyi Gadung Melati yang terkenal punya mitos kecantikan dan suka dengan wanita yang mandi dengan telanjang dada. 

"Kakek saya dulu juga uceng (Kasun), ceritanya ya karena danyangannya suka jika para wanita yang mandi telanjang dada," cerita Kades Sumari. 

Pada saat belum musim ponsel berkamera menurut warga memang hampir semua penduduk Manding dan bahkan luar desa ramai mandi di umbul dengan tanpa malu-malu telanjang dada ditempat terbuka bercampur antara laki dan perempuan. Justru jika memakai BH dan tidak telanjang dada, penunggu umbul yang berupa Bulus putih (jelmaan Gadung Melati) akan marah dan tidak mengabulkan doa permintaan warga. 

Kini warga terutama para wanita juga takut jika ada kamera nakal yang mengabadikan momen tanpa diketahui dan disebar di Medsos. Namun, Di malam jumat Legi konon masih sering ada ritual mandi telanjang yang dilakukan khusus wanita yang mempunyai tujuan khusus. 

Selain keberhasilan desa yang telah memberdayakan air umbul yang bermanfaat bagi hampir semua warga Manding, Sumari mengaku ingin mengembangkan wisata umbul Manding ini untuk tempat wisata yang alami dan ramah lingkungan. Acara rutin selalu dilakukan di bulan sepuluh setelah tanggal 10, sejak malam Jumat Legi hingga Jumat Legi sore. 

"Tiap tahun sudah rutin acara ritual Larung Sesaji sebagai bentuk Sedekah pada bumi yang telah memberikan sumber air ini," Kata Sumari. 

Dalam Larung Sesaji tiap tahun selalu ada pesta rakyat yang melibatkan seluruh komponen masyarakat didesanya sebagai bentuk mempertahankan budaya. 

"Mulai dari tirakatan, tarian, jaranan hingga kenduri dengan ragam buceng dan lainnya selalu kami selenggarakan untuk mempertahankan khazanah budaya dan tradisi di Manding ini," tambah Sumari. 

Terkait mitos yang ada, Sumari berharap agar cerita tersebut justru menjadi magnet bagi para wisatawan mengenal desanya yang dulu memang mengenal tradisi unik itu. 

"Kita akan kelola apapun sejarah yang pernah ada, itu sebagai sarana untuk memperkenalkan Manding pada warga dimanapun berada dan selain ritual Umbul disini ada air terjun yang sangat indah dan memang belum banyak dikenal orang," pungkasnya. 

Air terjun yang dimaksud Sumari adalah air terjun Jurug Tejo yang juga di desa manding Pucanglaban Tulungagung. 

 

Pewarta : Anang Basso
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Tulungagung TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top