Calon Independen Masih Sulit Menangi Pilkada Kota Malang

Wawan Sobari, pengamat politik UB. (Doc : MalangTIMES)
Wawan Sobari, pengamat politik UB. (Doc : MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANGPemilihan kepala daerah (pilkada) Kota Malang 2018 terus dipanasi munculnya calon N1 dan N2 (wali kota dan wakil wali kota) dari jalur independen.

Ada sejumlah nama yang mencuat lewat jalur independen. Sebut saja Bambang GW dan Choirul Anwar (Thembel). Ada juga vokalis band Arema Voice  Wahyu Gv.

Pengamat politik UB (Universitas Brawijaya) Wawan Sobari mengungkapkan, calon independen masih sulit untuk menoreh kemenangan. Menurut dia, perolehan suara kemenangan yang bisa didapat calon jalur independen hanya dengan skor yang sangat kecil, tak lebih dari 10 persen.

Terlebih lagi kekalahan calon independen menjadi tren pada pilkada serentak 2017. "Dari total pilkada 2015–2017, kemenangan calon independen tak sampai 10 persen," tandasnya ketika dihubungi MalangTIMES.

"Jadi, tak hanya sekadar mengumpulkan KTP. Coba lihat saja kemarin. Abdul Majid di Kota Batu hanya berapa persen. Kemudian berapa persen Nurcholis di Kabupaten Malang. Hanya tiga persen kan. Nah itu kan menunjukkan independen masih belum efektif," ungkap Wawan.

Selain itu, Wawan menyampaikan,  terkait calon independen, yang berbahaya adalah calon yang memang sengaja dibiayai untuk menghindari calon tunggal dalam pilkada. "Kalau dalam bahasa Jawa, calon boneka inilah yang dikhawatirkan," pungkasnya. (*)

Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top