Puisi Pendek (15)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Puisi Pendek

MENUJU ARAH PULANG

dingin tak bisa mengalahkan ingatan, tak bisa mengalahkan kenangan.

harapan yang ku sirami tadi siang melepuh, sekarat di mamah billboard sebuah iklan rokok.

aku dikalahkan berulang-ulang.

Ah, sunyi yang tak suci, sunyi yang tak suci.

Inikah wajahmu, begitulah kau meracau, berulang-ulang tadi malam.

Ada mata yang masih menerawang

Menyibak air hujan

Mengabaikan segala yang masih saja berderak, bercahaya.

Katanya, jadilah kaya, jadilah kaya

Sebelum kau mengarang cerita.

 

Dingin berparas unggu, kini

Malam tak pernah bisa membunuhnya.

Dan aku kembali membaca setiap arah jalan pulang

Yang disesatkan hujan berulang-ulang.

Membaca arah pulang. Membaca arah pulang

Membaca dalam remang air mata

Atau inikah yang dinamakan bimbang.

Ah, sunyi yang tak suci

Sunyi yang tak suci, inikah wajahmu. 

begitulah selalu kau dendangkan resah berulang-ulang, menikam-nikam.

Di depan, cahaya sepeda motor masih saja nyalang

Tak pernah bisa pulang.

 

PERCAKAPAN DALAM BUNGKUS ROKOK

lantas haruskan aku bakar seluruh ingatan di pagi yang basah sekedar untuk tentram

selamat pagi, beri aku segelas kopi kental dan pahit.

dan, hiruk itu kembali datang mencatat segala keasingan di selembar nota

menu makanan dan minuman, seperti biasa

adakah yang berbeda pagi ini, suara dari kepalaku bertanya.

hujan menyibakkan tawa para pengunjung

menyalakan amarahku, resah yang tersesat di labirin

hujan pagi ini.

adakah yang tahu darimana resah diciptakan.

lantas haruskan aku bakar 

seluruh ingatan di pagi yang basah sekedar untuk tentram.

selamat sore, beri aku segelas bir

tanpa es. dan, pikuk itu masih saja datang menggoreskan coretan-coretan diwajahku.

tentang para perempuan yang tercekik oleh busananya sendiri, tentang binatang-binatang yang khusyuk bersembahyang, tentang politik yang tak memiliki tepi, tentang atjeh, tentang TKI, tentang larangan merokok di ruang publik, tentang para wartawan yang dipertanyakan, tentang seks di liang kakus, tentang wajah kekasih di sebrang sana, tentang resah, tentang resah, tentang segala yang berkecambah

di mata di kepala dan di hati yang entah terisi apa.

hujan hanyalah sekedar kumpulan air yang berai

tak mampu menghanyutkan diri, mendiamkan ramai

dalam diri dalam sepi.

lantas haruskan aku bakar 

seluruh ingatan agar aku kembali tentram.

adakah yang pernah berpapasan muka dengan resah, tuan?

selamat malam, beri aku aspirin, obat tidur atau apapun itu, hingga aku mampu membunuh

resah. hingga aku mampu tertidur lelap.

hingga aku kembali ke awal yang paling dangkal

tangisan.

Pewarta : Nana
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top