Puisi Pendek (16)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Puisi Pendek (16)

dd nana

Seekor Puisi yang Lahir Dari Rahim Bambu di Belakang Rumahmu

Apa beda mimpi dan jagamu, kasih

Kita sama-sama terpesona sebelum cemas menggumpal serupa darah dari setetes air hidup yang kita ruahkan

Dalam lenguh, dalam keluh, dalamnya rahasia yang kita rapikan sebelum kita kembali pulang ke ruas-ruas kosong yang disebut rumah.

Seekor puisi telah lahir

Seekor puisi merangkak, hidup dari derak kering bambu di belakang rumahmu. Yang tak henti dicumbui lentik jari angin dan sepuh alam.

Seekor puisi yang menatap kita dengan mata mirip malaikat. Mata yang seringkali membuat kita risih untuk mengenyahkan selimut yang memeluk tubuh telanjang kita yang berpelukan.

Meringkuk dalam rasa bahagia yang ringkih, yang rapuh di kecup hari.

'Jangan takut. Aku tidak meminta apa pun dari kalian yang telah menanamkan ragaku di ruas bambu kosong di belakang rumahmu, Ibu,'.

Seekor puisi dengan mata malaikat

Mata yang berbicara tentang segala muara luka di bibir kita. Mata yang mengabarkan sebagai lelaki tak perlu kau takluk pada sepi luka.

Mata yang membuat kita, kasih, terlempar sebagai manusia lemah. Manusia yang diusir dari kenyamanan taman. Ruang kita bermain serupa kanak-kanak, tanpa ada kata dosa, jenuh, keluh yang riuh.

'Bukankah telah kau sadap ajaran luhur lelaki bernama Bisma, ayah. Dan kau, Ibu, telah kau tumpas sumpahmu menggeraikan kemaluan yang dijadikan taruhan para lelaki itu,'. Mata seekor puisi itu kembali berkata-kata.

Ah, kasih, sihir mata puisi yang kini mengekal dalam darah ini, mengingatkanku. Pada luruh keringat kita, pada janji yang diam-diam kita semayamkan dalam tubuh paling rahasia. Pada setiap amok rindu yang membuat waktu mati.

Akulah lelaki yang terus di sudutkan di pinggir lingkaran.

Kau perempuan yang menggeser jenjang sepasang kakimu dari lingkaran.

Nasib mencatat, kita yang terpedaya dalam kitab-kitab yang dibaca anak-anak kita.

Dan, seekor puisi bermata malaikat yang lahir dari ruas bambu yang kita lukis di belakang rumahmu, jelma guru. Jelma waktu. Jelma kelu pilu.

Kita lupa, kematian ada di tangan kita. Dan, seekor puisi yang lahir dari ruas bambu mengingatkan kita.

Sepasang yang tak pernah bersatu.

Pewarta : Nana
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top