Puisi Pendek (18)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANGZiarah Kematian
: Wajah seperti apa yang kau kehendaki ?

Menatap derap menuju pemakaman. Langit menyemburatkan warna yang tidak kau kenali. Antara cerah biru yang murung di saput angin.

Terkadang, leleh keringat yang mulai terasa asin, membuat mata nanar. Memastikan, paras apa yang tepat untuk mengabarkan kematian.

Tidak ada koak gagak atau salak sepi anjing kampung. Hanya derap yang menderap-derap ingatan. Mencabik segala pengetahuan. Mungkin, serupa Colombus, yang menaruh kitab-kitab di dak kapalnya. Dan terjun menyongsong kekosongan yang begitu padat. Dalam dadanya yang kosong diisap waktu.

Atau serupa Malinkundang yang mengibarkan bendera pada bentangan biru yang asing di kepalanya. Sambil menyeret praduga-praduga nista atas hasratnya.

Lantas, wajah seperti apa yang kau kehendaki ?

Saat derap semakin mengantar kaki di pemakaman sepi di pinggir kali. Pemakaman yang sekilas di mamah ingatanku serupa lukisan da vinci. Yang menyimpan teka teki disetiap sudut, garis dan cerlang warna. 

Para peziarah hampir pasrah. Duduk bergerombol dan mengibaskan ingatan-ingatan atas pertanyaan-pertanyaan yang terlihat serupa lubang kubur.

Meminta jawab demi jawab meminta untuk  diisi dan terus diisi. Terkadang, serupa lumbung perut kompeni yang dilahirkan dari kapal-kapal piatu. Lapar yang tak pernah usai.

Lantas, masihkah kau harap wajah yang selalu kau catat dalam buku harian atau di layar ingatanmu saat derap berhenti tepat di bibir kematian.

Menziarahi kematian

Tidak serupa dalam sinetron atau cerita-cerita yang dikemas dengan sampul warna warni. 

Ia serupa warna monokrom atau warna-warna yang di aduk dalam sebuah ceruk bernama waktu. Warna yang tidak tunduk pada kata dan aksara.

Warna yang membuatmu lupa. Apakah perlu menggaraminya dengan air mata.

Ode

Mendekatlah, kasih, telah ku racik serbuk cinta yang kita daras dari batang raga tadi malam.

Sebelum warna dan kata-kata mengaburkannya lagi. Mendekatlah, kasih.

Hidu lah, agar kau rasakan setiap degup dan geletar nyeri persetubuhan kita tadi malam. Agar kita selalu ingat, bahwa cinta bukan sekedar gairah yang nyala semata.

Tapi juga gentar yang terasa pada setiap lenguh doa kita. Pada setiap ah uh oh nikmat nyeri penyatuan raga.

Mendekatlah, kasih, agar kau selalu ingat, cinta bukan karangan bunga.

Tapi batu cadas di gigir remang senja. Yang setia dan riang tubuhnya di cumbu gelombang.
Sampai kelak, tak ada lagi sempurna raga yang kini masih memesona syahwat kita.

Pewarta : Nana
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top