Perusahaan Ekspor Anggarkan Rp 1 Miliar/Tahun untuk Pengembangan Kakao Kabupaten Malang

Ilustrasi
Ilustrasi

JATIMTIMES, MALANGMALANGTIMES - Pengembangan ekonomi daerah  melalui budidaya kakao berkelanjutan di Kabupaten Malang bukan program insidental dan main-main. 

Selain dana yang besar setiap tahunnya, yaitu Rp 1 Miliar setiap tahunnya di lokasi percontohan kakao (demplot), program tersebut juga mencakup lima Kabupaten yang merupakan sentra kakao di Jawa Timur (Jatim) dengan program yang selektif, terstruktur, dan berorientasi goal. 

Pelibatan berbagai unsur penting dalam keberhasilan tanaman kakao, seperti Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (ICCRI) dan Uni Eropa serta berbagai industri besar di Indonesia, adalah bukti keseriusan program tersebut.

"Potensi produksi kakao rakyat sangat besar di Jatim. Pasarnya pun sangat lebar dan belum bisa dipenuhi oleh petani kakao,"kata Isdarmawan Asrikan Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim, Minggu (10/09).

Isdarmawan membeberkan bahwa data areal kakao di Jatim seluas 63.040 hektar (ha) yang didominasi kebun kakao rakyat seluas 32.010 ha. Sisanya adalah milik PT Perkebunan Nusantara 26.487 ha dan perkebunan swasta seluas 4.543 ha.

Tapi, luas areal perkebunan kakao rakyat tidak sebanding dengan hasil produksinya, yaitu rata-rata di bawah 500 kg/ha per tahun.

"Inilah yang membuat GPEI meluncurkan program SCDP (Sustainable Cocoa Development Program) bersama pemerintahan daerah,"ujar Isdarmawan.

Kabupaten Malang yang menjadi salah satu demplot SCDP oleh GPEI di Jatim dilatarbelakangi dengan kejayaannya di bidang kakao selama ini.

Tapi, dalam beberapa tahun lalu, kakao di wilayah selatan  Kabupaten Malang semakin menurun. Luas areal juga beralih fungsi menjadi lahan tebu dan lainnya.

"Kondisi tersebut cukup memprihatinkan. Apalagi perusahaan besar juga sudah mulai beralih aktivitasnya. Pasar semakin kekurangan kakao. Ini peluang besar petani dan pemda,"ujar Isdarmawan yang menyebutkan kebutuhan di Jatim sebanyak 200 ribu ton setahun dan yang terpenuhi baru 35 ribu ton/tahun.

Isdarmawan Asrikan (tengah) ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia siap mendampingi desa percontohan di Kabupaten Malang dalam perkebunan kakao selama 4 tahun ke depan. (Nana)

Kondisi inilah yang memunculkan SCDP dan diprioritaskan dapat bermanfaat terhadap 500-1.000 petani kakao yang tergabung dalam 25-50 kelompok tani. 500-1.000 pemuda terkait dengan pengembangan kakao, baik produksi dan kualitas serta 500-1.000 perempuan terkait pengolahan produk kakao.

"SCDP berlangsung selama 4 tahun. Jadi petani, pemuda dan perempuan di desa demplot akan kontinyu kita dampingi,"terang Isdarmawan kepada MalangTIMES.

Bertumpu pada konsep pemberdayaan SCDP selama 4 tahun, GPEI selain memberikan pelatihan, juga menyediakan bibit unggulan kakao klon terbaru MCC 01-02, pupuk dan obat-obatan, bibit tanaman penaung tetap dan sementara, publikasi serta pendampingan kepada petani, pemuda dan perempuan. 

"Petani hanya menyediakan lahan saja dan siap untuk maju dalam meningkatkan kesejahteraan hidupnya,"ujar Isdarmawan yang menegaskan j uga bahwa political will Pemerintah Kabupaten Malang sangat bagus atas program ini.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Aditya Fachril Bayu Anandhika
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top