Puisi Pendek (19)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Puisi Pendek (19)

Pada Ciuman Segala Dikuburkan

- Pada ciuman, segala dirajang dan dilembutkan. Sebelum semua dikuburkan.

Saat kata tak lagi menemukan rahimnya, pada ciuman juga akhirnya dia bersembunyi. Melahirkan bebunyian purba yang menentramkan. Bunyi samar kecupan yang saling mengaburkan, ingatan-ingatan sepi dan nyeri.

Amarah yang liat dan tak terwakili bahasa pun, selalu menyerah. Pada ciuman yang tak pernah mengenal lelah, usia dan barahnya luka dunia. Diperamnya amarah menjadi kristal-kristal putih. Serupa kapas beraroma gula putih yang dibakar.

Rasa manisnya sejenak mengusir segala ngilu yang kita sandang sebagai manusia.

Mimpi-mimpi aneh di dalam kepala. Berbagai mozaik purba dengan segala gaya yang terkadang tak terpahami sepasang mata dan otak kita yang kian disepiakan sepi cuaca. Meminta dan meminta ruang istirah yang mampu melegakan dada. Menyamankan raga yang berhasrat pada sesuatu yang gaib, yang pernah hampir abadi digenggam bapak moyang kita.

Ciuman, O ciuman yang menguburkan letih dan segala petaka yang digariskan takdir. Ciuman yang mengantarkan kita pada ranjang yang sering kita mimpikan. Sejak raga berupa setetes gumpal darah.

Sejak puisi tak perlu dituliskan. Sejak khuldi hanyalah sekedar makhluk biasa yang mendesis-desis meminta persetubuhan.

Kecuplah aku sedalam ikan menyelam, kasih. Agar ragaku memekar bunga mawar yang kau cintai. Yang semerbak saling mengisi dengan ruam biji kopi pagi hari.

Ciumlah aku dan kuburkan segala yang membuat kita terjaga di ujung sepi malam. Dikejar rasa bersalah yang mereka namakan dosa.

Aku mencintaimu. Dan lewat ciuman-ciuman yang pernah kita simpan rapat di setiap ruas dedaunan, kita hidup.

Sekaligus mati.

Segala memang dikuburkan dalam sebuah ciuman. Percayalah.

- Dedaunan mati. Dikecup angin pagi yang datang dengan senyum menawan. 

Percayalah, kasih, tak ada yang sia-sia dalam kecupan. Semua yang datang dan kembali akan mewujud rupa tak terperi. 

Peri-peri yang kau bayangkan berwajah bidadari dan kstaria penjaga hati.

Percayalah.

- Air Mata yang Lupa Dikeringkan Ciuman

Di ujung tahun. Kau ucapkan selamat tinggal.

Di ujung mataku, aku serukan selamat datang air mata.

Air mata yang lupa dikeringkan kecupan. Kecupan yang pergi dalam ucapanmu. Kita tuntaskan cerita ini, sayang. 

Pewarta : Nana
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top