Waspadai Stroke di Usia Muda, Simak Imbauan dari Dokter RSUD Dr. Soetomo Ini

dr. Achmad Firdaus Sani Sp.S FINS (Foto: Phaksy Sukowat/ SurabayaTIMES)
dr. Achmad Firdaus Sani Sp.S FINS (Foto: Phaksy Sukowat/ SurabayaTIMES)

JATIMTIMES, SURABAYA – Bila dulu stroke biasanya banyak dialami oleh pasien berusia lanjut, namun kini tidak. Kasus stroke saat ini banyak menyerang kalangan usia muda. Perlu kewaspadaan lebih bagi penderita stroke meskipun jenis stroke ringan sekalipun.

Spesialis saraf dan neurovaskuler RSUD Dr. Soetomo dr. Achmad Firdaus Sani, Sp.S, FINS menjelaskan, bahwa adapun stroke yang belum banyak diketahui masyarakat yang seringkali diremehkan ialah stroke ringan dan stroke sepintas. Meski demikian, serangan stroke ini tetap merupakan kondisi gawat darurat mengingat hal tersebut menandakan adanya pembuluh darah di otak yang tengah bermasalah.

"Pada prinsipnya semua stroke tetap merupakan kondisi berbahaya walaupun stroke besar atau kecil. Karena bila salah satu pembuluh otak mengalami kelainan atau penyumbatan, maka kemungkinan besar ada pembuluh otak lain yang mengalami kelainan. Ini merupakan suatu kegawatdaruratan di bidang penyakit saraf," urainya.

Menurut alumnus FK Unair itu, stroke ringan adalah serangan penyumbatan pembuluh darah yang umumnya terjadi pada area otak yang tidak luas. Manifestasi gejalanya biasanya cukup ringan, seperti bicara pelo, wajah perot, kelemahan tubuh seperti ringan. Namun stroke ini akan segera pulih setelah 24 jam ataupun setelah pasien dirawat lima sampai tujuh hari.

"Biasanya ini terjadi penyumbatan. Jadi ketika setelah dirawat atau beristirahat maka akan terjadi peresapan dan pasien normal kembali," ujar Firdaus.

Sedangkan stroke sepintas adalah stroke akibat kelainan pembuluh darah otak, mata atau tulang belakang yang terjadi sebentar atau kurang dari 24 jam sudah membaik sempurna. "Misalnya tubuh tiba-tiba lumpuh sebelah kiri. Serangan otak sepintas karena membaik pelan- pelan kurang dari sehari," urai Firdaus.

Kedua jenis stroke ini tidak boleh diremehkan. Pasalnya, stroke ringan ini bisa saja menjadi Stroke berat dalam waktu seketika yang tidak dapat terduga. Salah satu kasus yang sering terjadi disebut stroke progression yang ditandai dengan manifestasi ringan yang berulang dan menjadi gejala yang lebih berat. Stroke ringan juga bisa fatal bila terjadi di area pembuluh otak yang vital, seperti batang otak.

Oleh karenanya, pasien dianjurkan untuk segera ditangani di IGD. Selanjutnya, pasien dilakukan pengambilan CT Scan kepala ataupun MRI. Hal ini untuk mengetahui adanya pendarahan pada otak. Kalau ditemukan ada pendarahan maka pasien diharuskan opname.

Kalaupun tidak ada pendarahan biasanya akan ditindaklanjuti dokter dengan foto pembuluh darah otak. Bila ada pembuluh darah otak yang menyempit maka akan diberikan terapi obat- obatan ataupun tindakan neuro intervensi. Neuro intervensi diberikan untuk memperbaiki penyumbatan atau kebocoran pada jenis pembuluh darah yang cukup besar.

Firdaus mengungkapkan, stroke yang ditemui kini banyak menyerang usia muda. Hal itu dibuktikan dengan jumlah mayoritas pasien yang ditangani di RSUD dr. Soetomo kini berusia di bawah 40 tahun. "Pasien stroke selama 24 jam setiap harinya bisa mencapai 5-10 orang. Satu dari dua pasien biasanya usia 20-30an. Jenisnya beragam ada yang penyumbatan ataupun pendarahan," ujar dokter asal Banyuwangi ini.

Firdaus mengimbau pasien ataupun keluarga harus merespon cepat bila mengalami salah satu dari beberapa gejala stroke yang mungkin dialami. Yakni, wajah perot atau melorot, lengan melemas, bicara menjadi tidak jelas atau pelo, pandangan gelap tiba-tiba, lupa secara tiba-tiba ataupun lumpuh separuh tubuh. Maka, pasien harus segera mendapatkan perawatan gawat darurat dan segera menegakkan diagnosa untuk memastikan adanya kerusakan pembuluh darah.

"Namanya saja stroke. Sifatnya mendadak dan tiba-tiba sehingga tidak dapat diperkirakan. Karena menyerang pembuluh darah. Bila ada salah satu gejala, segera ke IGD," pesan Firdaus, sapaan akrabnya.

Selain itu, lanjut Firdaus, golongan dengan riwayat stroke ringan berpeluang lebih besar untuk mengalami serangan stroke berat pada waktu yang tidak dapat dipastikan. "Peluangnya bisa 4 kali lebih banyak. Maka harus ketat menghindarkan faktor resiko bagi pasien dengan riwayat stroke ringan," ujarnya.

Bila seseorang ingin terhindar dari stroke, maka harus menghindari beberapa faktor resiko stroke. Hal itu bisa dilakukan dengan makan dengan nutrisi berimbang dan berolahraga cukup. Bagi penderita hipertensi harus minum obat hipertensi seumur hidup, asupan diet makanan harus mengurangi garam atau rasa asin, dan makanan rendah kolesterol. Selain itu, harus bisa mengontrol gula darah yang seimbang.

Sementara itu terpisah, seorang mantan pasien stroke ringan Edwin, 28 menceritakan, bahwa stroke yang dialaminya cukup membuatnya terkejut dan tidak menduga-duga. Pekerja lapangan ini sempat bingung lantaran separuh tubuhnya tetiba lumpuh, ditambah bicaranya menjadi pelo. Setelah memeriksakan diri, dokter menyatakan dirinya terkena stroke ringan. Tak kurang dari satu bulan penuh, Edwin pun menjalani istirahat total.

"Alhamdulillah bisa pulih seperti semula. Tapi Saya sekarang menjaga pola makan, berhenti merokok dan menjaga diri agar tidak cepat lelah," tukasnya.(Ps)

Pewarta : Phaksy Sukowati
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Surabaya TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top