Puisi Pendek (21)

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Puisi Pendek (21)

dd nana

(1)

Sepasang Kekasih yang Menolak Bercinta

Di urat sejarah, segala dipasangkan. Walau kelak waktu selalu hasrat pada kesendirian.

Adam yang sepi di kepung kenikmatan mengunyah daun serupa sirih

Yang disodorkan ekor ular bersisik rupawan. Mendesislah, kata sang ular. Agar kau faham rasa dan aroma tubuh dan tulang daun yang kau kunyah itu. Mendesislah, agar kau sempurna menjadi manusia.

Sang adam yang lugu menatap malu desisnya sendiri. Ini sebelum kemaluan menjadi sejarah yang meluluhluntakkan taman penuh kenikmatan yang dianugerahkan kepadanya. 

Ini sebelum adam faham bahwa sebagai raga yang daging dia menginginkan tubuh berbeda untuk dijadikan bayangan. Sebelum kata pasangan di sematkan di bulatan renta bernama dunia.

“Tapi aku menolak untuk bercinta,” kata adam kepada bayangan jelita yang enggan diberi nama. Aku menolak untuk bercinta dan membuka kemaluan dihadapan mata ular bersisik sempurna.

Agar tidak ada yang dikambing hitamkan. Agar kita tetap bisa berdoa tanpa hasrat meminta yang sudah jadi bagian diri. Agar sejarah tetap tertulis rapi di dedaunan sirih yang di tanam sang ular yang setia di taman kita.

“Maka aku kabulkan inginmu,” kata bayangan jelita yang entah sejak kapan menjadi sepasang adam. Yang berdaging sama tapi beda. Yang mengendapkan sari-sari kehidupan baru di kilau puting susu dan ceruk terdalamnya. Yang selalu rapi ditutupi urat tulang dedaunan sirih yang disodorkan ekor ular bersisik rupawan.

Kau menolak untuk bercinta walau kita telah menjadi sepasang. Walau mulut kita mulai mahir mendesiskan kemaluan yang masih saja terdengar malu-malu. 

“Tapi tuhan akan kesepian dengan penolakan kalian untuk bercinta,” buai sang ular, yang setiap matahari surup membersihkan gulma, rumput liar di Rahim taman yang dirimbuni pepohonan berdaun sirih.

tuhan ingin kalian bercinta, karenanya dicipta kemaluan. Karenanya kalian dipasangkan. Karena waktu tidak bisa hidup dalam ritme yang saling menahan. Saling melawan hasrat yang seharusnya di ranjangkan. Bercintalah, agar sepi bisa melenguh mengaduh.

“Bukankah kalian hidup untuk bergaduh !,” sentak ular.

Semenjak itu taman berderak dengan riang. Kemaluan bersua kemaluan dan ikrar di cipta untuk menjaga. Walau sekali lagi waktu seringkali juga punya maunya sendiri. Yang sepasang dan beranak pinak, berpasang-pasang kelak akan kembali mengulang.

Kesendirian.

(2)

Mereka saling menggigit dengan hasrat yang purba

Setelahnya sunyi. Tapi belum mati.

(3)

Di akhir cerita, adam faham seruan ular

Bahwa bercinta dan cinta adalah dua kata yang berbeda. Dua nyawa di dua tempat yang saling bertentangan juga.

(tidak ada nomor empat)

…Mendesislah. Rupakan cara bercintamu. Kentalkan pasanganmu dalam cara yang tak biasa-biasa saja. Cara yang diajarkan televisi, internet dan berbagai kitab yang sering kau baca.

Pewarta : Nana
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top