Wanita di Blitar Ini Sulap Debog Jadi Kripik, Raup Untung Jutaan Rupiah

Umi Nihayah menunjukkan keripik debog produksinya.(Foto : Istimewa)
Umi Nihayah menunjukkan keripik debog produksinya.(Foto : Istimewa)

JATIMTIMES, BLITAR – Batang pohon pisang atau bagi orang jawa disebut debog selama ini dianggap tak ada fungsinya dan dibuang layaknya sampah. Namun bagi Umi Nihayah (46) warga Dusun Bakalan, Desa/Kecamatan Wonodadi ,Kabupaten Blitar adalah bahan untuk mencari uang.

Sebab debog dia buat menjadi makanan kripik yang rasanya gurih layaknya kripik kentang. Berkat olahan keripik debog itu Umi Nihayah menghasilkan omset hingga Rp 10 juta perbulan.

Awalnya menemukan resep keripik debog dari internet pada tahun 2013 lalu. Dipicu dari daerahnya banyak debog pisang yang dibuang begitu saja hingga dia ingin mengolahnya lebih bermanfaat.

"Dimula cari artikel di internet kok ada kripik dari debog, dan kebetulan disekitar rumah saya banyak sekali pohon pisang lalu saya mencoba resep itu," ungkap Umi Nihayah Senin (13/11/2017).

Dia menjelaskan, cara mengolah kripik debog ini pertama kali  bonggol pisang yang masih basah dikupas sampai ke umbi utama. Lalu dipotong tipis-tipis, direndam air selama 24  jam. Diberi bumbu yang terdiri dari garam, bawang putih, kunyit, ketumbar dan daun jeruk.

Bumbu yang sudah dihaluskan lalu dicampur tepung beras dan diberi air. Irisan debog dicelupkan dalam adonan bumbu, lalu digoreng di minyak yang panasnya mencapai 200 derajat celcius.

“Pertama kali membuat saya makan kok enak gurih rasanya. Lalu saya coba berikan ke tetangga juga suka katanya enak. Lalu tetangga kaget waktu saya beri tahu kalau asalnya dari debog,” ujarnya

Keunikan ini, membuat kripik debog buatannya banyak yang memesan. Pesanan merambah hingga ke luar kota di Jawa Timur Seperti Malang, Kediri, Tulungagung, Mojokerto dan Surabaya.

Selain itu keripik debog buatan Umi juga bisa dengan mudah dijumpai di toko oleh-oleh khas Blitar. Sebab kripik ini sudah mendapat sertifikasi Halal dari MUI dan ijin resmi dari BPOM RI.

Dalam sebulan, Umi mampu memproduksi 100 kg keripik debog. Dia kemas dalam dua takaran. Yang berat 100 gr seharga Rp 12,5 ribu. Sedangkan yang berat 250 gr harganya Rp 25 ribu.

“Lumayan keuntungan sebulannya bisa mencapai Rp 10 juta. Padahal cari debognya gratis,” katanya.(*)

Pewarta : Mardiano Prayogo
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top