Cerita Cinta yang Tak Tersampaikan Senja

Ilustrasi puisi pendek (istimewa)
Ilustrasi puisi pendek (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Puisi Pendek (25)

Cerita Cinta yang Tak Tersampaikan Senja

(1)

Menangislah sayang, karena cerita cinta kita bukan serial sinetron atau telenovela.

Mungkin, air mata mampu menghapus duka tak abadi di nafas kita. Duka yang mengiris dan menyuburkan rindu yang menusuk mata hari kita.

(2)

Kita menulis puisi tentang nyala di tubuh telanjang yang menyatu. Tubuh yang disucikan gelora api dari kayu bakar yang menangis. Dan kita serupa bayi yang tertidur dengan menggenggam erat masa paling purba. Di reranting pohon surga. Berpelukan tanpa takut diikat kata dosa.

(3) 

aku meringis, saat puisi menjadi ladang cinta di rahim media sosial. Tapi ini hidup yang terus berderap maju walau peta cinta tak lagi diterakan di tubuh pualammu.

Ah, jangan cengeng. Ini jaman now, tak perlu kau berbuih bahasa sekedar untuk memeluk dan menciumiku. Lepaskan saja hasratmu.

(4)

di akunmu, aku hanya mampu menatap. Jemariku tak mampu sekedar untuk menyampaikan cinta lewat aksara. Yang dulu kau tunggu dengan debar yang membuat dadamu serupa alun gelombang yang membiusku.

(5)

kita entah telah menjelma apa, kini. Berdiam saling menunggu. Padahal rindu telah bertalu-talu. Memecah gelombang waktu.

(6)

Beri aku signal, walau hanya selarik cahaya dari kejauhanmu itu. Aku ingin sampai kembali di pesisirmu. Tersesatku telah menguras usia dan doa-doa yang dulu kerap aku lafalkan.

(7)

aku menangis. Pada kelembutan dan hangat nafasmu yang kini mengabur dan menghablur dalam apa yang kau sebut kewajiban.

(8)

cintai saja aku serupa kau menghirup nafas. Agar hidup menjadi lebih terang dalam gelapku.

Pewarta : Nana
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top