Bentuk Karakter Siswa Melalui Gadget, Bagaimana Caranya?

Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Ilustrasi (Foto: Istimewa)

JATIMTIMES, BLITAR – Pendidikan merupakan ranah yang sangat penting dalam membentuk karakter seseorang. Dikatakan penting, sebab melalui pendidikan inilah seseorang dikenalkan dengan nilai-nilai tentang kejujuran, kebenaran, dan kesantunan.

Oleh karenanya semakin tinggi pendidikan seseorangmaka tingkat pengetahuan dan kesantunannya pun akan semakin meningkat. Begitulah yang diharapkan oleh semua pihak dengan keberadaan pendidikan ini.

Akan tetapi, untuk menggapai cita-cita itu diperlukan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak demi tercapainya harapan tersebut. Sayangnya sakralitas keberadaan pendidikan sebagai pembentuk karakter siswa, kini kian ternoda seiring modernitas gadget yang merambah di kalangan pelajar.

Ia (gadget) hadir tak hanya memberikan kemudahan bagi penggunanya, tetapi juga membawa dampak negatif dari segala konsekuensinya. Sebagai bukti shahihnya,beberapa perilaku amoral yang diakibatkan oleh dampak negatif dari gadget ini, diantaranya adalah mudahnya tersulut emosi, mudah tersinggung saat mereka diingatkan orang tuanya untuk belajar. Lagi waktu belajarnya semakin tersisihkan lantaran mereka lebih memilih bermain game, dari pada belajar.

Dampak Negatif Gadget     

Realita bahwa modernitas gadget justru membawa sekelumit permasalahan moral dan sosial bagi siswa, seyogyanya ditangani secara klinis oleh semua pihak terkait. Sebab bila kenyataan ini dibiarkan begitu saja, tentu tujuan pendidikan kita akan sulit tercapai. Dalam hal ini, penulis menyederhanakan ada dua ranahyang menjadi “korban” keganasan gadget ini; pertama, dampak psikologis. Kedewasaan berpikir yang belum dimiliki oleh mayoritas siswa dalam memanfaatkan tekhnologi, membuat mereka acapkali menyalahgunakan gadget. Mereka menggunakannya hanya sebatas pemenuh kesenangan, tanpa diimbangi produktifitas: mengejar eksistensi lewat selfie tanpa diimbangi dengan kreatifitas karya seni.

Kedua, dampak sosiologis. Reaksi yang ditimbulkan saat seseorang telah kecanduan terhadap sebuah gadget, adalah perilaku yang kian acuh terhadap lingkungan sosial disekitarnya. Melemahnya kepedulian sosial inilah yang akan menjadi titik awal seseorang bersifat individualis (ananiyah). Kondisi demikian tentu tidak sepatutnya dibiarkan begitu saja. Sebab hal ini berlawanan dengan kultur bangsa kita yang menjunjung tinggi nilai-nilai kepedulian sosial.

Mengakhiri dekadensi moral siswa akibat pengaruh negatif gadget adalah sebuah hal yang mungkin terjadi. Bahkan hal itu dapat dilakukan dengan memanfaatkan gadget itu sendiri. Sayangnya dari sekian pelajar yang memiliki handphone, hanya segelintir dari mereka yang sadar dan menggunakan gadget sebagai penunjang belajar. Oleh karenanya dalam hal ini peran guru sangat berperan dalam memberikan pengarahan terhadap siswa agar menggunakan gadget sebagaimana fungsi dan proporsinya.

Sebelum terjun sebagai pendidik, saya juga mengalami bagaimana proses kesadaran menggunakan gadget yang baik. Semasa di sekolah dulu, saya sempat menggunakan gadget hanya sebatas pemenuh kesenangan saja; nge-game, chatting, dan bermain medsos. Akan tetapi setelah menginjak di bangku kuliah, saya baru sadar bahwa gadget mampu meningkatkan prestasi, skill, bahkan membentuk karakter seseorang. Kesadaran itu saya peroleh tatkala saya bertemu dengan salah satu dosen, DR. Ngainun Nangim yang merupakan pegiat literasi. Berbagai karya tulisnya tercecer di berbagai media massa; puluhan buku karangan beliau juga telah diterbitkan. Saat mata kuliah berlangsung, beliau kerap memotivasi mahasiswanya untuk menekuni dunia literasi. Bahkan tak jarang beliau “memamerkan” beberapa karyanya di hadapan mahasiswa untuk melecut semangat berkarya lewat seni menulis.

 Beliau menyampaikan bahwa salah satu media yang kerap digunakan untuk menulis adalah handphone. Selain karena lebih simpel membawanya, handphone bisa digunakan sebagai media tulis setiap saat: menunggu sholat, menanti datangnya bus, menunggu hidangan di warung, di sela-sela itu beliau manfaatkan untuk menulis. Setelah terkumpul banyak, baru   disalin di leptop.Tak berhenti di situ saja, beliau menunjukkan handphone-nya di hadapan mahasiswa yang isinya penuh dengan tulisan buah pikir beliau. Dari pengalaman beliau, saya terinspirasi untuk secepat mungkin memanfaatkan gadget demi menunjang kreatifitas saya dalam belajar, seperti: di sela-sela menunggu jam kuliah, menunggu jemputan teman, di tengah-tengah obrolan di kantin, saya coba menulis melalui handphone. Persis seperti apa yang beliau sampaikan.

Kebiasaan itu terus saya lakukan, hingga pada akhirnya tulisan pertama saya di muat dalam koran lokal (Radar Blitar) empat tahun yang lau dengan judul “aneka problematika nasional”. Saat itulah saya langsung merasakan kegirangan yang luar biasa. Bagaimana tidak, melihat karya dan nama saya terpampang di koran dandibaca oleh banyak orang.Benar-benar menjadi kebanggaan tersendiri, bisa terkenal dari buah karya. Bahkan kepuasan itu rasanya belum pernah saya rasakan sebelumnya. Baru kali ini saya merasakan merasakan titik puncak kepuasan dalam hidup.

Kepuasan yang saya rasakan saat itu tentunya tak lepas dari wejangan dosen saya yang tak lelah memotivasi mahasiswanya di kelas. Bila gadget digunakan secara positif, maka gadget pun bisa menjadi penunjang prestasi. Berawal dari situ saya memutuskan untuk terus berkarya dan memanfaatkan gadget sebaik mungkin.

Gadget Sebagai Pembentuk Karakter Siswa

Berkat pengalaman inilah, saya mencatat paling tidak ada tiga langkah yang patut dilakukan oleh seorang pendidik bila ingin membentuk karakter siswa melalui gadget. Pertama, mengenalkan manfaat gadget sebagai penunjang prestasi. Selama ini mayoritas siswa belum mengetahui bagaimana cara memanfaatkan gadget dengan baik. Akhirnya mereka, menggunakan gadget hanyasebatas untuk berfoto, ng-gamechattingdanhal-hal lain yang tidak produktif. Sementara di sisi lain guru “hanya” menyampaikan dampak negatifnya saja, tanpa memberikan “tawaran” kepada siswa bagaimana menggunakan gadget yang baik. Akibatnya, kesadaran siswa dalam memanfaatkan gadget secara positif masih sangat rendah.

Keduamemberikan keteladanan. Kesan bahwa kecanduan terhadap gadget adalah negatif, dapat kikis manakala kita mamanfaatkan dengan mengisi aplikasi-aplikasi yang bermanfaat. Dalam hal ini, Guru memiliki kesempatan yang besar menuntun siswa untuk memanfaatkan gadgetnya. Misalnya, di sela-sela pembelajaran, guru menunjukkan gadgetnya yang berisi kumpulan-kumpulan tulisan, aplikasi al Qur’an, e-book, atau aplikasi lain yang dapat menunjang belajar dan prestasi. Dengan keteladanan tersebut, siswa menjadi lebih tahu bagaimana cara memanfaatkan gadget lebih baik.

Ketiga, membuktikan keberhasilan. Merubah mindset siswa agar menggunakan gadget lebih bermanfaat bukanlah perkara yang mudah. Motivasi dan keteladanan saja masih kurang cukup meyakinkan siswa, supaya memanfaatkan gadget secara baik dan proporsional. Oleh karena itu untuk meyakinkan siswa, diperlukan pembuktian secara nyata dari guru bahwa dengan menggunakan gadget sesuai manfaatnya, dapat menambah pengetahuan, menunjang prestasi, dan meningkatkan semangat berkarya. Kenyataan itu benar-benar saya alami ketika saya menyaksikan beberapa buku karya dosen saya yang ditunjukkan saat pembelajaran di kelas.   

Kegagalan dalam memanfaatkan mutakhirnya gadget dapat mengakibatkan terjadinya dekadensi moral bagi para siswa kita. Ancaman terburuk yang akan terjadi adalah saat bangsa kita mengalami kehilangan identitasnya yang menjunjung tinggi nilai moral dan sosial. Maka untuk mereduksi kemungkinan tersebut, tiga strategi di atas, dapat diterapkan sebagai alternatif bagi guru dalam memberikan edukasi bagi siswa dalam memanfaatkan gadget. Sehingga tujuan pembelajaran untuk menciptakan siswa berkarakter dapat terwujud. Yakni siswa yang mampu memikirkan hal-hal yang baik (habits of mind), menginginkan hal-hal yang baik (habits of hearts), dan melakukan hal-hal yang baik (habits of actions) (Thomas Lickona:2004).

 

*Penulis adalah Guru PAI SMPN 7 Blitar dan Pegiat Literasi.

 

 

 

Biodata Penulis

            Penulis bernama Moh. Masrur Raziqi, Lahir di Tulungagung, 11 April 1993.  Riwayat pendidikannya diawali di MI Roudlotus Salafiyah (2005), MTsN Kunir Blitar (2008), MAN Tulungagung 2 (2011), S1 di IAIN Tulungagung (2015). Saat ini ia aktif mengjar di Smpn 7 Blitar. ia berusaha mengistiqomahkan dunia literasi. Beberapa karyanya sempat dipublikasikan di koran online; Dialektika Pesantren (Monitorday.co), Pesantren dan Tantangan Sosial (Harian Jateng), Sarung Santri: Mulai dari Simbol Idealisme Hingga Simbol Perlawanan (Harian Jateng). Penulis dapat dihubungi melalui no. HP 085-646-506-896.

Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top