Lomba Kuliner PKK, Bahan Lokal tapi Rasa Setara Olahan Chef

Salah satu perserta dari Desa Beji, Kecamatan Junrejo, mengolah daun kelor untuk makan siang dalam lomba Cipta Menu Kota Batu di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani, Selasa (28/11/2017). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Salah satu perserta dari Desa Beji, Kecamatan Junrejo, mengolah daun kelor untuk makan siang dalam lomba Cipta Menu Kota Batu di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani, Selasa (28/11/2017). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

JATIMTIMES, KOTA BATU – Sejumlah 24 tim penggerak PKK desa atau kelurahan di Kota Batu uji kreativitas di bidang kuliner bahan-bahan lokal di Graha  Pancasila, Balai Kota Among Tani, Selasa (28/11/2017). Meski berbahan lokal, masakan tidak kalah dengan  makanan yang ada di restoran dan buatan chef. Ya mereka berkompetesi dalam lomba cipta menu tingkat Kota Batu dengam resep beragam, bergizi, seimbang dan aman (B2SA) yang digelar oleh Dinas Ketahanan Pangan Kota Batu.

Para peserta ini harus menyiapkan menu keluarga dan kudapan. Peserta harus membuatnya dengan memperhatikan unsur inovasi, cita rasa, makanan higienis, aman dikonsumsi, gizi, penyajian dan penampilan. Unsur-unsur itu menjadi kriteria penilaian. Kemudian membuat potensi pangan sumber karbohidrat nonberas, mengangkat potensi pangan lokal.

Seperti buatan dari Desa Beji, Kecamatan Junrejo, yang membuat makanan dari bahan utama daun kelor. Ternyata daun kelor ini banyak ditemui di area desa tersebut dengan manfaat tinggi seperti menghilangkan flek wajah, kesehatan mata dan sebagainya.

"Kebetulan daun kelor itu di desa kami banyak. Lalu kita pakai saja. Apalagi manfaatnya banyak dan bagus ternyata dan kita tidak perlu mengeluarkan uang," ungkap Umi Murtyaningsih, ketua TP PKK Desa Beji.

Makan utama diunggulkan desa ini ada di makan siang yang disajikan untuk susunan anggota keluarga. Yakni ayah (29 tahun), ibu (27 tahun), dan anak laki-laki (5 tahun). Namanya tiwo’el bakar, terbuat dari singkong, talas, daun kelor dan wortel. Lalu sate ukel dengan bahan udang, daun kelor dan tempe. Kemudian sayur suhat terbuat dari oyong dengan isi lele dibuat debgan sayur asem serta minumannya jus ceria.

Kemudian menu lainnya adalah menu makan pagi nasi goreng tiwo’el, omelet sayur, dan sule jahe. Menu makan malamnya membuat sego gurih, lomot, sugoel, dan lemonis. "Acara seperti ini memang membuat kita agar lebih kreatif setiap tahunnya. Dan ini hasil karya bersama ibu-ibu PKK Desa Beji. Idenya juga dipikirkan bersama,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Wiwik Nuryati menjelaskan, event ini merupakan kegiatan untuk meningkatkan kreativitas dalam menciptakan menu. Lalu menggali potensi pangan pertanian atau perkebunan unggulan. 

"Even ini menguji ibu-ibu sampai sejauh mana kreativitasnya dalam memasak. Karena setiap tahunnya kita menggelar. Jadi, semakin kreatif, sudah seperti buatan chef-chef," ujar Wiwik kepada BatuTIMES.

Nantinya yang menjadi juara I akan maju dalam tingkat Provinsi Jawa Timur tahun 2018 mendatamg. Sedangkan juara II mewakili dalam lomba tingkat badan koordinator wilayah (bakorwil).

Pamungkas Suparmo, ketua Indonesia Chef Assosiation Malang, mengatakan seluruh peserta sudah memberikan karya terbaiknya meskipun ada kekurangannya. “Rasa sudah bagus. Sebagian ada kekuruangan. Tapi kan itu wajar. Dan  kreativitasnya sudah bagus,” jelas Pamungkas. (*)

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Angga .
Sumber : Batu TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top