Pengusaha Kaos Kota Batu Gulung Tikar, Kalah Saing dengan Produk Luar Daerah

Produk-produk baju dengan ikon Kota Batu di area toko oleh-oleh di Predator Fun Park, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Produk-produk baju dengan ikon Kota Batu di area toko oleh-oleh di Predator Fun Park, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

JATIMTIMES, KOTA BATU – Sejak Kota Batu menjadi kota wisata memang menjadi keuntungan bagi warga setempat. Salah satunya berkembangnya bisnis kaos dengan logo ikonik Kota Batu. Hanya saja, seiring perjalanan waktu pedagang kaos asli Kota Batu gulung tikar. 

Penyebabnya banyak produk dari luar Kota Batu yang masuk. Sementara, pengusaha kaos KOta Batu tidak mampu bersaing dengan ribuan bahkan ratusan ribu produk dari luar daerah. 

Padahal lima tahun sebelumnya mereka berjaya. Deretan kaos produk asli Batu berjajar di setiap toko oleh-oleh maupun tempat wisata. 

Pedagang kaos Batu, Lutfi l mengatakan mulai mengembangkan bisnis tersebut sejak tahun 2012 silam. Sayangnya, bisnis tersebut sudah tidak bisa dipertahankan. Kalahnya persaingan membuatnya gulung tikar dan membuat produk dari luar Kota Batu melenggang bebas di Kota Wisata ini.

“Sekarang Kota Batu semakin banyak dikenal namanya persaingan usaha pasti semakin ketat. Ya seperti ini banyak produk luar kota masuk, punya kita kalah bersaing. Yang tidak tahan seperti saya akhirnya gulung tikar,” ungkap  Lutfi, Minggu (3/12/2017).

Selain persaingan produknya, lanjut Lutfi tetapi juga dari segi harga yang dirasa sangat berat bagi pedagang asli Kota Batu. Selain itu, para  pedagang saat ini mendatangkan pakaian, dalam jumlah banyak atau grosir dari luar daerah.

“Padahal, kami pedagang di Kota Batu ini mulai dari mencetak, mempromosikan dilakukan sendiri. Yang dijual di pinggir jalan, di toko itu sudah bukan dari warga Batu lagi kebanyakan. Hampir semua gulung tikar Mbak yang pedagang asli Batu. Yang dijual memang kaos bertuliskan Batu, tapi yang menjual bukan warga Batu,” imbuh pria 30 tahun ini.

Sebelumnya, produk buatannya dagangan di jual di lokasi wisata dan toko oleh-oleh. Saat masa kekayaan itu Lutfi bisa mendapatkan omset yang cukup tinggi. Kurang lebih mencapai Rp 100 juta per bulan hanya dengan berjualan kaos. 

“Kalau dulu bisa dpat Rp 100 juta perbulan. Lama kelamaan semakin merosot. Kemudian sejak tahun 2016 saya menutup bisnis ini,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan, Arief As Siddiq mengatakan pada tahun 2018 mendatang akan memprioritaskan Sumber Daya Manusia (SDM) Kota Batu sendiri. “Untuk mengatasi hal tersebut, kita ada solusi sudah masuk ke dalam program 2018. 

Ia menjelaskan gulung tikarnya produk lokal itu diakui adanya faktor persaingan. Mulai dari pemasaranannya, kualitas produk, dan brandingnya.

Saat ditanya apakah dari Pemkot Batu tidak ada bantuan permodalan atau peralatan cetak, Arief mengatakan masih akan dikoordinasikan terlebih dahulu.

Sebab saat ini sedang fokus mempersiapkan pameran khusus pelaku usaha se Kota Batu. Bahkan dalam kegiatan salah satunya membantu mempermudah pelaku usaha ini masuk ke dalam toko ritel untuk menjual produknya. 

“Ya bisa nanti seperti hak paten diberlakukan untuk pelaku usaha di Kota Batu. Agar tidak bisa dijiplak oleh yang lain. Tentu perlu regulasi, minimal Perwali atau Perda,” ujar Arief yang juga sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup itu.

Pewarta : Irsya Richa
Editor : Heryanto
Publisher : Angga .
Sumber : Batu TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top