Sepi Publikasi, Kopi Merah Jambuwer Sabet Juara III Cita Rasa Kopi Terbaik Nasional

Teguh Suwiyono (41) petani dan penggiat Kopi Merah Jambuwer saat memperagakan pengolahan kopi asli Desa Jambuwer, Kromengan (Nana/MalangTIMES)
Teguh Suwiyono (41) petani dan penggiat Kopi Merah Jambuwer saat memperagakan pengolahan kopi asli Desa Jambuwer, Kromengan (Nana/MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Kabupaten Malang terkenal dengan produk sektor perkebunannya. Bahkan produk perkebunan telah menjadi komoditi ekspor cukup lama dan merajai pasar mancanegara selama beberapa tahun lalu sampai kini.

Kopi adalah salah satu produk dari sektor perkebunan yang sampai saat ini menjadi rajanya ekspor dari Kabupaten Malang.

Dengan luas tanam kopi yang cukup menyebar di 33 kecamatan yaitu 14.947,5 hektar dan produksi sebanyak 9.613 ton. Kopi menjadi unggulan di sektor perkebunan dan menjadi lahan yang kini mulai secara intensif dikelola secara modern oleh para petani Kabupaten Malang.

Kopi Amstirdam adalah salah satu contoh yang menjadi produk unggulan Kabupaten Malang di mancanegara sampai saat ini.

Kini, Kabupaten Malang siap untuk memperkenalkan kembali varietas kopi jenis robusta unggulan yang tumbuh di lereng Gunung Kawi sebelah selatan dengan ketinggian 380-600 DPL. Tepatnya di Desa Jambuwer, Kecamatan Kromengan yang sejak lama telah tumbuh perkebunan kopi. Kopi ini dikenal dengan sebutan Kopi Merah Jambuwer.

Tentunya, pemberian nama kopi merah ini tidak sekadar untuk menarik pasar semata. Menurut Teguh Suwiyono (41) petani sekaligus penggerak kopi merah ini, nama yang disandangkan atas biji kopi ini dikarenakan metode petik biji kopinya yang masih merah.

“Banyak manfaat dari petik merah ini, misalnya kualitas kopi lebih baik sehingga cita rasa dan aroma ketika diseduh lebih enak dan harum. Selain itu juga membuat harga kopi akan menjadi lebih mahal dan ini berdampak pada peningkatan ekonomi petani kopi itu sendiri,” kata Teguh kepada MalangTIMES, Selasa (05/12).

Bupati Malang Rendra Kresna bersama petani kopi merah Jambuwer, Kromengan

Teguh tidak sekadar berbicara. Kopi Jambuwer yang ditanam di lahan sekitar 200 hektar dan setiap tahun menghasilkan 300 ton biji kopi ini, dalam Festival Kopi Nusantara menyabet gelar juara III dalam kategori cita rasa kopi.

“Aroma kopi merah Jambuwer pernah diadu dalam festival itu dan keluar sebagai juara. Walaupun masih diperingkat ketiga. Maklum kopi merah masih diproses alakadarnya oleh kelompok tani yang ada,” ujar Teguh.

Kopi Merah Jambuwer, memang masih terbilang baru dalam jagad perkopian. Bahkan, bisa terbilang terlambat untuk diekspos, baik dalam sisi pengolahan, jaringan pemasaran maupun di dalam geliat kehidupan petaninya.

Baru di tahun 2016, para petani kopi bermufakat untuk berkumpul dalam gabungan kelompok tani (gapoktan) yang dinamainya makmur Tani. Gapoktan inilah yang mulai melakukan revitalisasi kopi merah Jambuwer yang secara alami memang memiliki cita rasa dan aroma yang tidak kalah dengan jenis kopi lain di nusantara.

Aroma Kopi Merah Jambuwer ini pun telah lama memikat hati Bupati Malang Dr H Rendra Kresna dan istri. Berbagai kesempatan saat berkunjung ke wilayah Kromengan yang akan ditanyakan adalah kopi merah Jambuwer ini.

“Bapak dan ibu Bupati sangat suka dengan kopi merah Jambuwer ini. Mereka seringkali tanya kalau ada acara,” ujar Joanica da Costa Sekertaris Kecamatan Kromengan.

Cita rasa kopi merah Jambuwer telah diakui oleh para penikmat kopi dalam maupun skala nasional. Sayangnya, persoalan publikasi yang terbilang minim membuatnya masih tidak terlihat. Beberapa event bersifat insidental menjadi ruang promosi Kopi Merah Jambuwer. “Dan tentunya ini sangat kurang sekali untuk mengangkat kopi kami,” ujar Teguh yang berharap bahwa ada sentuhan lebih dari berbagai pihak dalam mengembangkan dan mempromosikan kopi merah ini.

Pewarta : Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top