Masuk Gorong-Gorong, Satgas Dinas PU Tak Takut Bergelut Sampah Busuk

Satgas Dinas PU
Satgas Dinas PU

JATIMTIMES, MALANG – Selalu ada sisi positif dan negatif terkait status  Kota Malang sebagai kota pendidikan terbesar setelah  Jogjakarta.

Di satu yang menguntungkan, banyak sekali kalangan dari berbagai wilayah di Indonesia menempuh pendidikan di Kota Malang. Dampaknya, perputaran roda ekonomi dengan banyaknya ribuan mahasiswa di Kota Malang sangat signifikan. Hal tersebut salah satnya dipicu banyaknya bisnis tempat-tempat kos dan perumahan.

Di sisi lain, juga timbul beberapa permasalahan yang dalam penanganannya perlu keseriusan. Sebut saja kemacetan maupun banjir.

Di beberapa titik banjir di Kota Malang, penyebabnya adalah gorong-gorong tersumbat sampah. Tingginya tingkat kepadatan penduduk kurang diikuti kesadaran membuang sampah yang benar sehingga menumpuk dan menutupi gorong-gorong. 

Untuk masalah banjir akibat penyumbatan gorong-gorong ini, sosok yang satu ini selalu hadir dan selalu berupaya total  untuk menyelesaikanpersoalan  genangan air. Ya, dia adalah satuan tugas (satgas) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang yang selalu sigap dan setiap saat siap untuk membantu dalam menanggulangi banjir dengan membersihkan gorong-gorong.

Satgas ini tidak takut meski harus bergelut dengan sampah-sampah busuk maupun  kotoran-kotoran yang berbau menyengat, bahkan sudah terendap selama puluhan tahun. Padahal, semua itu juga bisa berpotensi menimbulkan penyakit yang bisa mengancam nyawa mereka.

Satgas DPUPR sudah terbiasa masuk ke gorong-gorong hanya mengenakan kaus oblong dengan sepatu boot dan head lamp. Dengan bersenjata garuk penyapu, mereka tanpa ragu dan takut masuk ke gorong-gorong kotor berbau tak sedap yang kadang airnya berwarna  hitam. Satgas merangsek masuk ke dalam lubang yang ukurannya terkadang begitu kecil sehingga badan pun harus bersusah payah untuk membersihkan  sampah-sampah yang mengendapi sauran air.

Kordinator Satgas DPUPR Hari Widodo alias Beng-beng mengungkapkan, pekerjaan tersebut memang memiliki risiko besar. Bahkan, bisa saja merenggut nyawa. Pasalnya, ketika memasuki lorong sempit saluran air yang penuh sampah, di sana bisa saja banyak benda atau limbah berbahaya yang bisa mencelakakan.

"Misalkan saja ketika kita memasuki sebuah gorong-gorong sempit berair, penuh sampah, limbah paling berbahaya. Contohnya adalah limbah suntik. Kalau kita saat masuk tidak berhati-hati dan  tidak mengenakan sepatu saat masuk ko gorong-gorong, bisa saja kita kena jarum yang kondisinya sudah sangat kotor penuh kuman sampai akhirnya bisa menyebabkan penyakit," ungkapnya (7/12/2017).

Menurut Beng-Beng, karena berisiko tu, saat berada di saluran air, prosedurnya memang harus ada teman yang menemani untuk antisipasi hal terburuk seperti keracunan gas. Jadi, jika satu orang keracunan, temannya bisa segera menolong.

"Kita ada ring-ringnya. Tidak sendiri. Di dalam got juga tidak boleh terlalu lama. Harus menjaga ketahanan tubuh. Untuk itu, kami juga sudah mengikuti latihan dengan Badan SAR Nasional (Basarnas) serta pelatihan Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) semenjak di bentuk lima tahun yang lalu," ungkapnya.

Selama ini, dalam pembersihan, Satgas DPUPR memang belum pernah mengalami hal-hal yang serius dan mengancam jiwa. Namun, satgas selalu terus berupaya berhati-hati maksimal untuk menghindari kecelakaan.

"Dulu sempat ada yang meninggal. Namun  meninggal karena memang kondisinya sudah sakit, tetap dipaksakan kerja. Kondisi fisiknya lemah. Akhirnya besoknya  rekan satgas kami meninggal. Tapi itu sudah lama," kata Beng-Beng.

Untuk saat ini, dalam menunjung pekerjaannya menelusuri lorong sempit gorong-gorong untuk membersihkan sampah,satgas  masih membutuhkan alat safety, tabung gas dan juga respirator yang kini kondisinya sudah rusak dan  beberapa alat lainnya menyesuaikan kebutuhan.

"Kembali lagi kami mengimbau kepada masyarakat agar sadar untuk tidak mencemari lingkungannya sendiri dan tidak membuang sampah sembarangan yang akan merusak lingkungan," pungkasnya. (*)

Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top