Kota Pronbolinggo Masih Terbebas dari Difteri

dr Taufiqurrahman di kantornya (Foto : Agus Salam/ProbolinggoTIMES)
dr Taufiqurrahman di kantornya (Foto : Agus Salam/ProbolinggoTIMES)

JATIMTIMES, PROBOLINGGO – Jika di sejumlah kota diramaikan dengan penyakit difteri, lain halnya dengan Kota Probolinggo. Di kota seribu taman tersebut, sampai hari  ini masih terbebas dari penyakit difteri. Mengingat, belum ada satupun warga yang terjangkit penyakit yang mematikan tersebut.

Kepastian itu disampaikan sektretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) dr Taufiqurrqhman, Selasa (12/12) dikantornya pukul 09.00.   

Meski demikian, pihaknya tetap memantau dan mengawasi dan mendeteksi sedini mungkin, agar warga yang terserang difteri nantinya, cepat teratasi.  Karena menurutnya, virus difteri merupakan ancaman yang harus diwaspadai.

Pihaknya tidak ingin, di wilayahnya terjadi kejadian luar biasa (KLB) terhadap penyakit difteri  Karenanya, selain monitoring di lapangan, pihaknya telah melakukan imunisasi rutin dan berkala di puskesmas, posyandu yang ada di tengah masyarakat.

“Imunisasi yang kita lakukan 90 persen angka pencapaiannya. Kami juga mengadakan penyuluhan, baik pencegaahan, pengobatan  tergadap difteri,” katanya ke sejumlah wartawan.

Dijelaskan, selama enam tahun, wilayahnya terbebas difteri. Penyakit difteri menyerang warga kadmangan pada tahun 2011 tahun yang lalu. Namun, tidak menyebabkan penderitanya meninggal. Mereka sembuh setelah dilakukan perawatan dan pengobatan di RSUD dr Muhammad Saleh. “Selama enam tahun, kami terbebas dari difteri. Tahun ini mudah-mudahan tidak ada. Belum ada laporan dari puskesmas atau RSUD,” tandasnya.

Mengenai imunisasi capaian 90 persen, menurut Taufiqurrahman, tidak khusu imunisasi diftari saja. Tetapi bersmaan juga dengan imunisasi DPT dan polio atau lazim disebut imunisasi dasar lengkap. Dalam kesmpatan itu, ia berharap agar warga tetap menjaga kesehatan dan meningkatkan gizi.

“Karena kalau kesehatan dan gizi menurun, penyakit mudah masuk ke tubuh, Untuk balita, orrang tuanya harus mendatangi tempat-tempat imunisasi. Agar anaknya kebal terhadap penyakit ” tuturnya.

Ditambahkan gejala awal difteri adalah timbulnya rasa panas di kulit dan ubuh nyeri. Jika kondisi seperti itu dibiarkan, lama kelamaan akan menutup pernafasan hingga menyebabkan sesak nafas dan menyebabkan penderitanya meninggal. Sedang penularannya, melalui pernafasan.

“Kalau sudah parah, dilakukan operasi  bagi pasien dewasa. Lehernya dilubangi untuk jalan pernafasan,” pungkasnya. 

Pewarta : Agus Salam
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Angga .
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top