Harga Kebutuhan Dapur Naik, Inflasi Akhir Tahun Kota Malang Capai 0,49 Persen

Salah satu pedagang kebutuhan dapur eceran tengah melayani pembeli. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)
Salah satu pedagang kebutuhan dapur eceran tengah melayani pembeli. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Kenaikan harga beberapa bahan pangan kembali memicu inflasi di Kota Malang. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama Desember 2017 Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,49 persen.

Sesi Statistik Distribusi BPS Kota Malang, Dwi Handayani Prasetyawati mengatakan, inflasi bulan Desember dipicu oleh naiknya harga beberapa komoditi bahan pangan rumah tangga. Di antaranya beras, telur ayam ras, daging ayam ras, cabai merah, tomat sayur, dan bawang merah. 

Selain itu juga kenaikan tarif kereta api, rokok kretek filter, rokok kretek, dan bahan bakar rumah tangga. Dwi menyampaikan, dari seluruh kelompok pengeluaran, bahan makanan menyumbang inflasi terbesar yakni 0,43 persen.

Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kota Malang, pada Desember 2017 lalu terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 130,45 pada November 2017 menjadi 131,09 pada Desember 2017. 

Dwi mengungkapkan, sepanjang akhir tahun terjadi peningkatan permintaan komoditi-komoditi tersebut. Karena jumlah barang di pasaran terbatas, memicu kenaikan hingga kelangkaan beberapa komoditas. "Naiknya harga juga dipicu event-event akhir tahun, seperti Hari Raya Natal dan Tahun Baru. Secara umum tingkat konsumsi naik," terangnya. 

Selain itu, bertepatan dengan momen libur panjang, juga membuat tarif kereta api mengalami kenaikan. Untuk beberapa rute jarak jauh pun diberlakukan tarif batas atas. Maka tidak heran jika tarif kereta api menjadi salah satu pemicu terjadinya inflasi di Kota Malang pada Desember lalu, yakni sebesar 0,29 persen.

Berdasarkan data dari BPS Kota Malang, inflasi tahun kalender 2017 termasuk yang paling tinggi sejak tahun 2011 lalu. Inflasi tahun kalender 2016 lalu hanya sebesar 2,62 persen, kemudian di tahun 2017 naik menjadi 3,75 persen.

Tingginya harga bahan pangan tersebut masih bertahan hingga awal tahun ini. Misalnya harga daging ayam yang melambung. Di pedagang eceran, saat ini daging ayam ras dibanderol dengan harga Rp 32 ribu hingga Rp 34 ribu per kilogram.

"Naik sejak sebulan lalu, ini setelah tahun baru masih belum turun," ujar Sunarti, salah satu pedagang mlijo di kawasan Lesanpuro. 

Selain itu, harga telur juga masih tinggi. Saat ini, per kilogram telur dihargai Rp 24 ribu hingga Rp 25 ribu. Padahal normalnya, harga telur di angka Rp 18 ribu. "Sudah beberapa Minggu ini nggak berani ambil telur dan daging ayam banyak, harganya mahal, takut nggak laku," tuturnya. 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top