Kematian Seekor Anjing

Ilustrasi kematian seekor anjing (pixabay.com)
Ilustrasi kematian seekor anjing (pixabay.com)

JATIMTIMES, MALANG – Kematian Seekor Anjing

*dd nana

Apa yang kau tahu tentang gelap, tuan?

(1)

Anjing berbulu hitam menggonggong, sebelum cahaya motor menangkapnya.

Mata anjing itu terkesima. Begitu cepat jatuh cinta. Sungutnya meneteskan lelehan bir yang diteguknya sebelum adzan maghrib meletus. Di telinga runcing berwarna sama hitamnya.

Setelahnya, sengat kematian menguar. Bersamaan dengan dentum musik di berbagai bar. Menyala dalam redup cahaya.

Mantra bagi para manusia sepi untuk bangkit dari tidur panjangnya.

Beberapa orang, menyeret ekor anjing kasmaran berwarna hitam. Mencelupkannya ke got yang alpa diberi nama.

Waktunya bagi manusia untuk berpesta.

(2)

Di sisi malam, sepasang mata anjing betina berwarna putih keemasan, menatap peristiwa.

Jatuh cinta yang terlalu cepat membuatmu binasa, rutuknya. Sebelum anjing betina itu menanggalkan bulu putih keemasannya. 

Waktunya untuk berpesta. Persetan dengan kesetiaan. Bagi anjing sepertiku, cahaya remang di bar-bar yang mulai menggeliat itu,  adalah rahim. Untuk dimasuki, untuk dibenihi.

Dia berjalan. melenggokkan pantatnya, menyembunyikan ekor panjangnya. Sungutnya dipaksa tersenyum semadu mungkin.

Karena dengan ini, para manusia yang datang akan terlena. Mabuk dan menghamburkan lembaran-lembaran uang yang dijejalkan di belahan dadaku.

Waktunya berpesta. Dentum musik dan gelegak minuman terus berdatangan. Hentakan kaki telah meninggalkan jejak di lantai putih yang disorot cahaya warna-warni.

Aku menikmatinya. Persetan dengan kesetiaan. Tapi tuhan cemburu dan ingin bermain dengan ku.

Dikirimnya malaikat paling rupawan. Yang merubah pantangan leluhurku.

Jatuh cinta yang terlalu cepat membuatmu binasa. Tersesat di kegelapan yang tak pernah kau pahami.  Ekorku diseretnya ke sisi got yang alpa dinamai. 

Bukankah asalmu dari sini ?

(3)

Malam telah dibunuh di sini

Sedang siang tidak memberiku ruang

Langkahku linglung. Udara begitu mencekam. Membuat kakiku terpaku di tengah jalan kota ini.

Kota yang dengan jumawa mengabarkan keberhasilannya membunuh malam.

Aku terbangun. Dan melihat tubuhku telah tercacah dan siap untuk disajikan.

Dipiring-piring bermotif merak yang mengkilap. Oleh minyak di potongan tubuhku.

Waktunya berpesta. Tapi, santaplah dulu daging penambah syahwat ini. 

Suara itu menyadarkanku. Ternyata, bukan hanya malam yang terbunuh di kota ini.

(4)

Apa yang kau tahu tentang gelap, tuan?

Saat seluruh peristiwa diterangi cahaya. Seredup apapun dia.

Pewarta : Wartawan MalangTIMES
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top