Aktivis Anak: Kasus Siswa SMP Bunuh Diri di Blitar akibat Kesehatan Mental dan Pelecehan Sosial

Tim gabungan saat mengevakuasi jasad Aryang.(Foto : Basarnas Trenggalek)
Tim gabungan saat mengevakuasi jasad Aryang.(Foto : Basarnas Trenggalek)

JATIMTIMES, BLITARktivis Sahabat Perempuan dan Anak (Sapuan) Titim Fatmawati menyebut kasus bunuh diri siswa SMP di Blitar terjadi karena masalah kesehatan mental yang diakibatkan stigma dan pelecehan sosial. Dugaan itu ia sampaikan karena ada dugaan korban Aryang Wimuji Putra sering berperilaku seperti perempuan.

“Kesulitan remaja dari minoritas seksual  bisa terjadi secara mencolok saat ia diintimidasi oleh teman sebaya atau ditolak anggota keluarga. Korban memilih bunuh diri karena takut bagaimana reaksi keluarga atau teman mereka terhadap orientasi seksual mereka,” kata Titim kepada BLITARTIMES, Jumat (12/1/2018).

Ia menambahkan, remaja dari minoritas seksual sering menghadapi masalah sendirian tanpa ada orang yang bisa diajak bicara. Kondisi ini membuat mereka merasa ditolak kelompok dan lingkungan sosial, tidak diinginkan, dan sendiri. Menurut Titim, apabila hal ini terus berlanjut, mereka dapat berpikir bahwa bunuh diri adalah satu-satunya jalan keluar.

“Adanya latar belakang keluarga atau teman yang pernah melakukan bunuh diri juga dapat memengaruhi remaja untuk melakukan bunuh diri. Jangan sampai kondisi ini terulang. Saran saya, bila ada masalah ajak yang bersangkutan, bicara sebagai sahabat, tidak menghakimi dan mencari solusi dari masalah yang dihadapi,” ujarnya.

Seperti diberitakanAryang Wimuji Putra (15), siswa SMPN 3 Srengat, nekat bunuh diri menceburkan diri di Sungai Brantas. Jasad warga Desa Kunir, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, itu ditemukan di sekitaran Tambangan Pema, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Kamis (11/1/2018).

Setelah bunuh diri, muncul banyak rumor perihal motif bunuh diri korban. Misalnya disebabkan ketahuan merokok atau membawa bedak dan lipstik. Sebelum  bunuh diri, pihak sekolah melalui guru bimbingan konseling  juga menerima surat kaleng yang berisi keluhan perubahan sikap korban yang suka berperilaku layaknya perempuan, sering menyanyi dangdut, sering pulang malam hingga dinihari serta sering bergaul dengan wanita berpakaian seksi.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top