Kematian Seekor Anjing Part 3

Ilustrasi puisi kematian seekor anjing (Istimewa)
Ilustrasi puisi kematian seekor anjing (Istimewa)

JATIMTIMES, MALANG – Kematian Seekor Anjing Part 3

Tak ada yang mengekal dalam cerita atau kisah. Setelah riuh, senyap menunggu. Memamah tubuh pualammu dalam sunyi yang serupa sumur purba tak berair,

Tulah

Sejak tuhan bersabda kepada serpih kecilnya, turunlah. Turunlah ke dunia, agar kalian mengerti bagaimana penciptaan tak semudah yang kalian bayangkan.

Sang ular yang bersembunyi di balik tubuh pualammu yang terusir itu, memamah serpihan sabda. Diendapkannya dalam rahim yang hitam. Hingga suatu ketika, mahkluk yang berjalan dengan empat kaki dan meneteskan liur dari moncongnya yang lapar, mengawini sang ular.

Maka, lahirlah tulah yang mengalir dalam rasa sakit sunyi. Menetes-netes dalam sejarah dan meriuhkan kisah yang ditulis dalam berbagai kitab dan buku yang kini masih kau baca itu.

Dan ingatlah, kisahmu adalah nyeri dalam pengabdian kepada para pengabdi. Jangan putus asa, di ujung paling nyeri aku menanti,. Tulah pertama.

Sejak itu, aku ngembara. Mencari para pengabdi yang juga berjiwa sunyi. Menunaikan tulah pertama. Menyelesaikan takdir atas wujud burukku yang fana. Kematian ternyata memesona dalam ngeri yang tak bisa aku ceritakan saat ini,. Saat itu pula aku memahami arti sebuah lolongan.

2.  Tumang

Konon, sang ular pernah juga bersabda. Meniru penciptanya yang agung. kelak dalam pengembaraanmu, ada perempuan tercantik yang akan jadi istrimu,. Perempuan yang lalai, bahwa setiap yang berjiwa bisa saling memahami walau tidak saling mengerti. Di jatuhkannya gulungan benang tenun. Watak manusia, wahai anjing, selalu meringankan. Mata manusia, wahai anjing, hanya menatap sedepa tangan. Sang ular berdesis dan aku hampir menangis. Karena tulah pertama telah menemui pintunya.

siapapun yang mengambilkan ku benang itu akan aku jadikan pasangan hidupku. Kalau dari jenisku, jadilah saudara sehidup mati. Jika dari jenis lainnya, jadilah suamiku,. 

Aku Tumang. Anjing yang akhirnya mengawinimu dan membuatmu memanjangkan cerita nyeri. Satu babad akhirnya tercipta dengan kematianku. Anak kita jelma cerita. Kita kembali ke muasal yang tak pernah bisa kita ceritakan saat ini.

Masihkah kau dengar lolongan ku ini, puteri,.

3. Tukiyah

Bukan puteri dan tidak secantik dirimu, dewi. Tapi diketiaknya aku mengendus sebuah pengabdian tiada tepi. Tukiyah pernah berucap, hidup itu sejengkal tanah lamanya. Tapi perjalanan menjadi, tidak dibatasi angka. Manusia, anjing punya  jalan yang sama untuk menjadi. Kalau kau mau ikuti aku,.

Aku masih anjing berusia belasan bulan. Tapi mataku teramat awas untuk melihat berbagai bayangan yang menyelinap disegala aroma. Bau bacin ketiakmu, hanyalah dunia. Maka aku ikuti langkahmu.

Tapi, percayalah, tulah selalu ada. Aku melihatnya saat Tukiyah yang gemar menyembuhkan sesamanya dengan mantra, asap kemenyan dan cipratan air, tubuhnya membengkak dan tak berwujud manusia. Di parak pagi, segerombolan manusia menghajarnya sedemikian rupa dengan serapah dan tulah yang di ulang-ulang. 

Aku melihatnya, saat seorang manusia yang aku gigit mata kakinya, menghantamkan bongkahan kayu di kepalaku. itu belum nyeri, itu belum sunyi, wahai anjing. Hanya kematian. Kisahmu masih panjang untuk menemuiku, aku melihat sang ular yang selalu hadir dalam mimpi saat aku tertdur di ketiak Tukiyah. Tuk-Iyah. Tuk-Iyah. Gelap meraja dan riuh mati di tikam sunyi.

Pewarta : dd nana
Editor : Redaksi
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top