Omah Jenang Blitar Ajak Wisatawan Belajar Seluk Beluk, Filosofi dan Membuat Jenang

Yuyun menunjukkan aneka jenang yang diproduksi dalam kemasan modern.(Foto : M.Rifai/JatimTIMES)
Yuyun menunjukkan aneka jenang yang diproduksi dalam kemasan modern.(Foto : M.Rifai/JatimTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Sebagai daerah yang kaya wisata, Kabupaten Blitar juga punya kuliner tradisional khas. Salah satunya jenang, jajanan legendaris  yang selalu ada di setiap hajatan dan hari raya sejak masa lampau.

Seiring perkembangan zaman, jenang tak lagi hanya bisa dinikmati setiap ada hajatan. Pesatnya perkembangan UMKM di Blitar membuat jenang menjadi ikon dan kini jadi oleh-oleh yang banyak dicari wisatawan.

Salah satu pembuat jenang untuk keperluan oleh -oleh  adalah Hendri Christiawan. Ia punya rumah produksi bernama Omah Jenang Kelapa Sari. Lokasinya di Jalan Masjid Nomor 46, Rejowinangun, Kademangan, Blitar. Atau 30 menit perjalanan dari pusat Kota Blitar.

Uniknya, di tempat ini, wisatawan tak hanya  berbelanja jenang. Tapi juga dapat mempelajari seluk-beluk, filosofi, hingga cara membuat jenang. Rumah ini dikenal menjadi tempat wisata edukasi dan telah mendapatkan sertifikat dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Wisatawan yang berniat magang akan diajak belajar cara mengolah jenang, cara memasarkan, hingga cara mengatur manajemennya. Apabila tak ingin magang lama-lama, pengunjung tetap bisa mencoba berlatih cara memasak jenang. Mereka diperkenankan masuk ke dapur pembuatannya. Di dapur itu, terdapat tungku besar yang bernama jedi.

Satu jedi dapat menampung 100-125 biji kelapa, 30 kilogram ketan, dan 30 kilogram gula kelapa. Semua komponen itu terus-terusan diaduk supaya lembek dan lengket. Proses pengadukannya kira-kira 7 jam.

Sepanjang hari, produksi jenang terus berlangsung. Jadi wisatawan yang datang bisa menjajal mengaduk jenang di wajan raksasa itu.

Setelah belajar membuat jenang, wisatawan dapat membawanya pulang. Harga jenang itu per kilogram dibanderol Rp 15-40 ribu. Bisa dibawa sebagai buah tangan. Tahan sampai 1 tahun bila disimpan di lemari penyejuk.

Menjadi salah satu ikon wisata kuliner Kabupaten Blitar, Omah Jenang Kelapa Sari mampu bertahan hingga saat ini tak lepas dari inovasi dan kreatifitas pemiliknya. Yuyun Kurniawati,  istri Hendri  Christiawan, mengatakan produksi jenang ini dimulai oleh orang tuanya sejak tahun 1985. Setelah menikah, usaha ini dikembangkan oleh Hendri suaminya dan jadilah Omah Jenang ini.

“Produksi jenang dibuat sejak tahun 1985. Jadi yang menciptakan produksi dulu adalah keluarga saya. Dulu namanya Kelapa Sari Haji Nyoto. Sekarang dipegang mas Hendri kemudian dikembangkan jenangnya jadilah Omah Jenang,” katanya kepada BLITARTIMES, Sabtu (10/2/2018).

Sementara Hendri Christiawan saat jadi pembicara seminar kewirausahaan di Balai Kusumowicitor yang juga dihadiri BLITARTIMES pada  11 Januari 2018, menyampaikan bahwa bisnis jenang itu pesaingnya relative sedikit. Pabrik jenang terbesar ada di Kudus, padahal  kebutuhan jenang di Blitar dan Malang Selatan itu sangat tinggi, mayoritas untuk hajatan.

“Awalnya saya memulai bisnis ini dengan manajemen tradisional. Nah, sekitar tahun 2008 saya mulai berinovasi karena ingin jenang itu terlihat keren agar jenang bisa dinikmati oleh siapapun, umumnya jenang dibungkus besek. Pernah gak kalian lihat orang ke bioskop bawa jenang?," katanya.

“Dulu jenang hanya dinikmati oleh orang yang punya hajat, Agar jenang bisa dinikmati semua orang dimanapun dan kapanpun maka jenang harus dikemas berbeda, salah satu caranya dengan mengubah kemasan. Hanya dengan mengubah kemasan saja maka omset bisa naik.Dari kemasan besek, saya kembangkan jenang salah satunya dengan kemasan keranjang. Jadi jenang bisa dibawa kemana-mana dan penikmatnya,” tambahnya.

Inovasi kemasan yang dia lakukan tanpa mengubah rasa jenang. Sebab, tegas dia,  rasa jenang harus dipertahankan sesuai dengan tradisi.

“Rasa tetap karena rasa jenang harus tetap seperti itu. Tapi kemasan yang kita ubah. Dengan kemasan yang terlihat keren, jenang jadi dilirik anak muda. Sehingga tak hanya orang tua saja yang menikmati jenang,” tukasnya.(*)

Pewarta : asdain Rifai
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Angga .
Sumber : Blitar TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top