Kasihan, Pasutri Miskin Dan Sakit Parah Tak Tertangani

Dewi Astutik saat terbaring di kamar rumah iparnya. Daging putih di dekat selangkangan itulah yng belum diketahui penyakitnya (Agus Salam/Jatim TIMES)
Dewi Astutik saat terbaring di kamar rumah iparnya. Daging putih di dekat selangkangan itulah yng belum diketahui penyakitnya (Agus Salam/Jatim TIMES)

JATIMTIMES, PROBOLINGGO – Lengkap sudah penderitaan Dewi Astuti (50) dan Bebun. Selain tidak memiliki rumah, pasangan suami istri (Pasutri) yang tidak dikaruniai anak ini, didera sakit parah. Bebun menderita stroke hingga tak dapat bergerak, sedang istrinya diserang tumor ganas.

Sabtu (7/4) siang pasangan suami istri (pasutri) yang numpang di rumah Mujiono (52) adiknya di Jalan Soekarno-Hatta, Gang Mangga RT 2 RW 3 Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur itu bisa sedikit tersenyum. Sebab, keduanya mendapat bantuan sembako dan penyembuhan melalui kartu BPJS oleh Kapolresta Kota Probolinggo.

Karena tidak punya apa-apa, Bebun tak pernah dirawat di RSUD atau ke dokter, Sedang Dewi Astutik yang biasa dipanggil Emy, 9 Maret lalu sempat beberapa hari dirawat di RSUD dr Muhammad Saleh. Namun, Emi tidak dirawat di RSUD Syaiful Anwar Malang, sesuai rujukan RSUD dr M Salah, dengan alasan tidak punya biaya. “Biaya perawatan di RSUD kena Rp1,5 juta. Kami dan warga urunan,” ujarnya

Alasan lain, jika harus opname di Kota Malang, tidak ada yang menjaga lantaran tidak memiliki anak, sedang orang tua dan kakak-adik Emy berada di luar daerah. Kondisi ekonomi mereka, hampir sama dengan Emy. “Enggak punya apa-apa. Rumah yang ditempati milik adiknya. Tidak punya anak, sedang saudara dan ibunya Emy di luar kota,” ujar Muhammad Jatmiko (36) ketua RT setempat.

Jatmiko yang masih keponakan Bebun mengatakan, Emy dibawa ke rumah sakit setelah mendapat Surat Keterangan Miskin (SKM) dari pemkot. Dan SKM tersebut sudah tidak bisa dipergunakan, karena sudah habis massa waktunya. Pasutri inipun, tidak memiliki kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). “Makan sehari-harinya, ya kami dan warga sekitar sini yang memberi. Yang merawat juga. Kami dan warga bergantian,” tandasnya.  

1GitW.jpg

Dijelaskan, pasutri ini tidak tidur bersama, di rumah berukuran 4x8 meter itu, Bebun siang dan malam menempati ruang tamu. Sedang Emy istrinya, terbaring lemas di kamar tidur yang bersebelahan dengan tempat tidur Bebun suaminya. Jatmiko beserta warga yang lain mengatakan, kalau penyakit yang diderita Emy, menebar bau busuk. “Kadang baunya sampai tercium keluar rumah,” tambah ketua RT yang diangguki warga.

Menurutnya, sekitar 4 tahun lalu, Emy ada masalah dengan rahimnya. Setahun setelah rahimnya diangkat melalui operasi, muncul benjolan di dekat alat kelaminnya, tepatnya di paha kiri bagian atas. Benjolan sebesar kentang itu terus membesar hingga pecah dan muncullah daging putih seperti otak manusia. “Daging putih persis otak. Itu terus menjalar hingga membesar. Sekarang besarnya kayak piring makan,” tambahnya.

Jatmiko berharap, pemkot membantu biaya operasi pengangkatan daging di bagian perut bawah Emy. Mengingat, pasutri tersebut sudah tidak memiliki apa-apa dan warga, serta keluarganya sudah tidak mampu membantu. “Jumat kemarin Emy dibawa ke RSUD dr M Saleh. Karena kondisinya mengkhawatirkan. Ia harus diinfus, karena ia tidak mau  makanan dan minuman. Sejak sakit, sampai sekarang pemkot belum menjenguk,” pungkasnya.

Terpisah Kepala Dinas Kesehatan, dr Ninik Irawibawati saat dihubungi mengaku, belum mendengar kalau ada warga miskin sakit parah. Karenanya, ia enggan berkomentar lebih jauh soal penyakit yang diderita Emy. Apakah tumor atau kanker, termasuk jenis dan stadiumnya. “Kami harus tahu dulu. Kalau sudah tahu, kami bisa mengambil tindakan. Terus terang, kami belum mendengar kalau ada warga Pilang yang sakit seperti itu,” katanya singkat.

Pewarta : Agus Salam
Editor : A Yahya
Publisher : Angga .
Sumber : Probolinggo TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top