Disparbud Kabupaten Malang Kemas Upaya Konservasi Air Ala Dewi Mutrim Tengger Jadi Agenda Wisata

Para penari yang mengiringi pengambilan air suci di Sendang Widodaren dalam Grebek Tirto Aji masyarakat adat Tengger. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Para penari yang mengiringi pengambilan air suci di Sendang Widodaren dalam Grebek Tirto Aji masyarakat adat Tengger. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

JATIMTIMES, MALANG – Suku Tengger sebagai masyarakat agraris sangat menghargai keberadaan air sebagai unsur penting suburnya tanaman pangan yang mereka tanam. Setiap tahun di bulan atau sasi kasanga, mereka menggelar upacara adat Grebek Tirto Aji yang menyiratkan semangat konservasi sumber daya air.

Hal tersebut dinarasikan oleh budayawan Kabupaten Malang Bambang Supomo saat membawakan acara yang digelar di Taman Wisata Wendit, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, hari ini (12/4/2018). "Upacara adat ini secara sejarah lebih tua daripada upacara adat Kasada. Jika ditarik ke istilah masa kini, ini upaya masyarakat Tengger menghargai sumber daya air," ujarnya.

Salah satu yang dilakukan untuk menjaga kelestarian air yakni menjaga lingkungan hulu di kawasan pegunungan Bromo-Semeru dan secara rutin mengecek kondisi matai air di hilir, yakni di mata air Sendang Widodaren. "Ini memastikan air tetap hidup. Mereka melestarikan dengan cara grebek atau kata lainnya pencarian," terangnya.

Bambang menguraikan, sejarah lokal menyebutkan bahwa upacara adat Grebek Tirto Aji berawal ketika kakak Rara Anteng yang bernama Dewi Mutrim prihatin dengan kondisi kawasan lereng Bromo-Semeru yang kurang air. "Saat itu Dewi Mutrim bertapa dan menangis karena prihatin kondisi tanah di wilayahnya yang kekurangan air meski tinggal di kawasan atas awan," jelasnya. 

Tangis sang dewi pun merembes ke dalam tanah. Setelah bertapa lama, Sang Hyang atau Tuhan yang disembah mengabulkan permohonan Dewi Mutrim. Dia pun diminta mencari lokasi air matanya menjadi mata air. "Saat itulah dimulai grebek atau pencarian mata air atau tirto yang berharga atau aji. Ketemunya di sendang ini," paparnya.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Malang HM Sanusi mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut selain wujud peran masyarakat lestarikan adat budaya, tapi juga mendayagunakan sebagai daya tarik wisata. "Selama ini masyarakat Tengger sudah cukup dikenal upacara adat Karo, Kapat, Kawolu, dan Kasada. Harapannya ini nanti juga semakin melekatkan image budaya yang kuat," ungkapnya. 

Dia menekankan bahwa Kabupaten Malang telah menetapkan sektor pariwisata sebagai prioritas pengembangan pembangunan. Mengingat selain potensi wisata alam, wilayah kedua terluas di Jawa Timur tersebut juga kaya keberagaman budaya. "Pemkab Malang bertekad tidak hanya lestari, tapi wisata budaya ini menjadi kekuatan ekonomi riil. Industri kepariwisataan merupakan sektor dinamis dan strategis yang punya multipel efek untuk menyejahterakan masyarakat," tegasnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang Edy Purwanto menerangkan bahwa kegiatan Grebek Tirto Aji bukan ritual semata. Melainkan salah satu jalan untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. "Wisata budaya dan adat tradisi, juga mempererat silahturahmi masyarakat. Selain itu, meningkatkan kesadaran nilai budaya lokal yang religius," paparnya. 

Pewarta : Nurlayla Ratri
Editor : A Yahya
Publisher : zaldi deo
Sumber : Malang TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top