Di Depan Ribuan Mahasiswa, Wakil Ketua MPR Sebut Politik Identitas Kemunduran Demokrasi

Wakil Ketua MPR Dr. Ahmad Basarah saat memberikan sertifikat kuliah kebangsaan kepada Mahasiswa (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)
Wakil Ketua MPR Dr. Ahmad Basarah saat memberikan sertifikat kuliah kebangsaan kepada Mahasiswa (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

JATIMTIMES, JEMBER – Wakil ketua MPR Dr. Ahmad Basarah Minggu (15/4/2018) menghadiri pemberian ribuan beasiswa Mahasiswa yang diberikan Pemkab Jember di Aula PB. Sudirman.

Dalam kesempatan tersebut, politisi PDI Perjuangan ini juga memberikan kuliah umum dihadapan ribuan Mahasiswa asal Jember.

Ahmad Basarah mengatakan, bahwa Pilkada Jakarta 2017 lalu, awal dari terjadinya peningkatan intensitas kampanye berbasis politik identitas. Isu yang memanfaatkan sentimen suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) ini dikhawatirkan bakal kembali terulang di Pilkada 2018 yang digelar serentak pada akhir Juni tahun ini.

Untuk mengatasi hal itu perlu upaya serius dari semua elemen bangsa, termasuk mahasiswa, agar penggunaan politik identitas tersebut tak terjadi lagi, karena berpotensi memecah belah keutuhan bangsa. 

"Munculnya politik identitas [bernuansa SARA] dalam Pilkada ini merupakan kemunduran 89 tahun [demokrasi] di Indonesia. Kenapa? Karena sejak Sumpah Pemuda, pemuda-pemuda Indonesia sudah memikirkan tentang politik identitas. Dengan apa? Dengan identitas ke-Indonesia-an. Itulah mengapa tema yang saya ambil tadi adalah Persatuan Nasional," kata Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah kepada sejumlah wartawan.

Menurut Basarah, pada tahun 1928 kala itu, generasi muda Indonesia sudah memahami bahwa politik identitas dapat menghancurkan bangsa. Karena hal itu membuat Belanda berhasil memecah belah bangsa Indonesia dengan politik adu domba atau devide et impera.

Kesadaran para pemuda inilah yang lantas mengilhami pemilihan Bahasa Melayu, yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia, sebagai bahasa pemersatu. Meskipun saat itu, pelaksanaan Kongres Pemuda banyak dihadiri oleh Pemuda Jawa dan berada di Pulau Jawa.

"Bahasa yang dipilih itu Bahasa Melayu, bukan Bahasa Jawa. Kenapa? Karena mereka menyadari Bahasa Melayu ini adalah bahasa perdagangan yang dapat membuat Bangsa Indonesia menyatu dengan bahasa itu dan maju ke depan. Jadi kalau sekarang Pilkada menggunakan politik identitas, maka peradaban politik kita mundur melampaui tahun 1928. Dan ini yang harus kita peringatkan agar tidak terus dilanjutkan," jelas politisi yang juga menjabat Wakil Sekjen PDIP tersebut.

Basarah menegaskan, seharusnya pertarungan perebutan suara dalam Pilkada harus diwarnai dengan adu gagasan dan program antar pasangan calon yang dapat memajukan bangsa. Bukan justru mengeksploitasi isu-isu bernuansa SARA maupun politik uang. Sebab menurut dia, kedua hal itu sangat bertentangan dengan semangat demokrasi yang tujuan akhirnya untuk menyejahterakan rakyat.

"Isu SARA akan berdampak panjang bagi kerusakan bangsa. Sedangkan money politic akan merusak bangsa dalam jangka pendek, karena kepala daerah yang terpilih itu pada umumnya terjerat kasus-kasus korupsi," terangnya.

Lantas apa peran mahasiswa untuk menangkal eksploitasi politik identitas yang memanfaatkan isu SARA tersebut? Mengenai hal itu, pria 49 tahun ini meminta para mahasiswa untuk lebih cerdas sehingga dapat membedakan setiap informasi yang diterima. Apakah fakta atau fitnah, serta mana sesuatu yang bisa merusak bangsanya dan mana yang dapat membangun bangsanya.

Oleh karena itu, dia mengapresiasi program Bupati Jember, Faida, yang memberikan ribuan beasiswa bagi mahasiswa asal kabupaten setempat. Karena menurut Basarah, program itu merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan amanah pembukaan UUD 1945.

Sebab dengan kecerdasan yang dimiliki, segala macam upaya untuk memecah belah bangsa melalui politik adu domba, berita hoaks dan fitnah itu bisa ditangkal.

"Jadi kata kunci yang pertama adalah dengan kecerdasan para mahasiswa. Karena mereka adalah calon-calon para pemimpin bangsa," jelasnya.

Sementara itu, Bupati Faida, menyatakan, sebagai calon pemimpin bangsa dan dunia, para mahasiswa ini perlu mendapat suntikan semangat dari sejarah pendiri bangsa.

Oleh karenanya, Pemkab Jember menghadirkan Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah untuk menyampaikan kuliah kebangsaan di hadapan mahasiswa tentang sejarah perjuangan merebut kemerdekaan, juga upaya mempertahankan Indonesia dari berbagai ancaman disintegrasi.  

"Sehingga para mahasiswa ini terlecut semangatnya. Dan ketika lulus nanti dapat bermanfaat bagi keluarga, lingkungan, serta turut membangun daerah dan negaranya," tandasnya. (*)

Pewarta : Moh. Ali Mahrus
Editor : Heryanto
Publisher : Angga .
Sumber : Jember TIMES
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top