Kreasikan Tahu Bernama Gepo, Warga Pakunden Raup Omzet Rp 15 Juta Sebulan

Mugi sedang membuat tahu waliknya saat memberikan bumbu dan hendak digoreng. (Foto:M.Prayogo/BlitarTIMES)
Mugi sedang membuat tahu waliknya saat memberikan bumbu dan hendak digoreng. (Foto:M.Prayogo/BlitarTIMES)

JATIMTIMES, BLITARTahu sudah menjadi makanan yang umum bagi masyarakat Indonesia. Namun, di tangan Indah Mugi, tahu disulap menjadi sebuah makanan yang lezat dengan ciri khas tersendiri.

Dari hasil kreasi dan coba-coba memasak, dia membuat kreasi tahu walik yang dinamakan tahu walik Gepo. Tahu ini punya ciri khas tersendiri yang renyah dan punya segala rasa. Dinamakan gepo karena menurut Mugi, tahu itu bisa mengobati sakit kepala atau gerah polo (gepo).

Perempuan yang tinggal di Kelurahan Pakunden, Kota Blitar, ini awalnya ingin mengembangkan potensi daerahnya, yakni tahu. Hampir seluruh tetangganya menjadi pengrajin tahu.

“Waktu itu kan Kelurahan Pakunden mau bentuk kampung tahu, tapi ide pengembangan kreasi masakannya masih jarang. Jadi, saya ingin menginspirasi untuk menciptakan makanan tahu yang khas berbeda dengan daerah lain,” ujar dia.

Lalu Mugi bereksperimen membuat tahu walik dengan ciri khas sendiri. Lalu dibuatlah tahu walik yang dibuat renyah tanpa minyak dan disiram kuah dengan rasa pedas, asem, manis, gurih yang menjadi satu.

Tahu walik yang sudah jadi dan dikemas untuk dipasarkan. (Foto:Mugi for BlitarTIMES)

“Kalau tahu walik khas Jogja kan pakai petis. Kalau Banyuwangi kan saos kacang. Jadi, saya buat sendiri khas Blitar. Pakai kuah yang memadu semua rasa. Dan tahu ini tetap kruchy walau disiram kuah. Jadi, waktu dimakan, pecah di mulut banyak rasanya,” ungkap perempuan 25 tahun ini.

Tahu walik Gepo buatnnya itu dia jual dalam bentuk mangkok cup seharga Rp 5.000 per cup. Dan awalnya dia kenalkan ke teman-temannya. Ternyata banyak yang tertarik sehingga info soal tahu Gepo menyebar. Hingga akhirnya Mugi mulai banyak pesenan dari kantor-kantor.

“Karena juga saya bentuk praktis dan terlihat bagus di cup, jadi banyak yang pesen dari kantor-kantor di Blitar. Dari pesenan saja, rata-rata sehari bisa 100 cup tahu. Belum yang beli langsung ke toko,” ucapnya.

Dari situ, dia bisa meraup omzet sebulan bisa mencapai Rp 15 juta. Apalagi kalau momen seperti Ramadan, dia bisa sampai kewalahan menghadapi pesanan yang datang. "Ramadan ini, pesenan pernah sampai 500 cup. Jadi, sampai kewalahan mengurusinya,” tukas dia.

Mugi mengungkapkan kunci tahu buatannya disukai karena kerenyahannya yang jarang ada. Renyah itu muncul karena setelah digoreng, tahu tersebut ditiriskan minyaknya dengan alat spinner hingga minyak hampir tidak ada.

“Yang spesial itu pakai spinner-nya yang jarang orang memakainya. Jadi, harapan saya, banyak warga berkreasi seperti ini. Dan bila nanti ada kampung tahu, ingin juga kalau buatan saya ini jadi salah satu ikon,” kata Mugi. (*)

Pewarta : Mardiano Prayogo
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top