Pasca Lebaran Harga Telur Ayam Melonjak Drastis

Tim TPID melakukan sidak di sejumlah pasar tradisional. (eko Arif s /jatimtimes)
Tim TPID melakukan sidak di sejumlah pasar tradisional. (eko Arif s /jatimtimes)

JATIMTIMES, KEDIRI –  Pasca lebaran harga telur ayam di Kota Kediri melonjak drastis. Guna memantau harga telur Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pasar tradisional yang ada di Kota Kediri, Selasa (10/7/18). 

Dalam sidak tersebut, Tim pengendali inflasi daerah (TPID) menemukan harga di pasaran bervariasi. Sidak pertama berlangsung di Pasar Setono Betek. Petugas mendatangi pedagang telur ayam. Di pasar tradisional terbesar di Kota Kediri ini, harga telur ayam dibandrol Rp 26.000/kilogram (kg). Harga ini naik Rp 1.000 dari sehari sebelumnya Rp 24.000-25.000/kg. 

Selain harga telur ayam, TPID juga memantau harga kebutuhan pokok lainnya. Diantaranya, komoditi beras, minyak goreng, gula dan terigu. Umumnya beberapa komoditi harga barang pokok ini relatif stabil, meskipun harganya masih tinggi. Sementara beberpa jenis komoditi sayuran ada yang mengalami penaikan harga seperti, tomat, wortel dan kentang.

Sidak kedua dilanjutkan ke Pasar Pahing. Seperti di Pasar Setono Betek, petugas juga mendatangi sejumlah pedagang. Sasaran pertama kali yang dituju tim adalah kios bahan pokok milik ibu Nur di dekat pintu masuk. 

Di kios ini, tim mencatat harga telur ayam yang setara dengan Pasar Setono Betek yakni, Rp 26.000/kg. Harga telur ayam ini jauh lebih tinggi apabila dibandingkan sebelum Hari Raya Idul Fitri 1439 H lalu, berkisar Rp 19.000-20.000/kg.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Kediri Yetty Sisworini mengatakan, penaikan harga telur ayam di pasaran terjadi akibat produktivitas telur mengalami penurunan. Sehingga, pasokan telur ke beberapa pasar berkurang.

"Produktifitas telur ayam menurun akibat pengaruh cuaca. Sementara permintaan ke luar daerah tinggi. Sehingga harga telur disini menyesuaikan pasar di luar," jelas Yetti, Selasa (10/7/2018).

Produktifitas telur ayam yang merosot, imbuh Yetti, juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah melarang peternak penggunaan imbuhan Antibiotic Growth Promoters atau AGP untuk pakan ternak, sejak Januari 2018 lalu. Pelarangan tersebut dilatar belakangi kekhawatiran pemerintah terhadap resistensi bagi konsumen daging atau telur ayam.

Ali Mansur, selaku Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri mengatakan, larangan penggunaan AGP berdampak pada produktivitas telur. Pasanya, paska pelarangan tersebut, banyak peternak yang mengeluh ayam petelurnya mati karena terserang penyakit.

“Larangan penggunaan AGP berdampak pada daya tahan hewan melemah. Apalagi dalam keadaan cuaca seperti saat ini," ungkap Ali.

Populasi ayam petelur di Kota Kediri terus menurun, paska larangan penggunaan AGP. Dari sekitar 16.000 ekor populasi ayam petelur, saat ini merosot hingga 10.000 ekor. Penurunan jumlah populasi ini otomatis menyebabkan produktifitas telur juga ikut merosot.

Pewarta : Eko Arif S
Editor : Moch. R. Abdul Fatah
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Kediri TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top