Harga Telur di Tulungagung Naik Tinggi

Eko Nurhadi saat menjual telur di Pasar Ngemplak, Tulungagung. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Eko Nurhadi saat menjual telur di Pasar Ngemplak, Tulungagung. / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

JATIMTIMES, TULUNGAGUNGHarga telur di Kabupaten Tulungagung bergejolak dan melambung. Harga terakhir Selasa (10/07) di toko dan pasar, telur menembus harga hingga Rp 28.000 per kilogram.

"Harga telur di ini mengalami kenaikan sudah sejak seminggu lalu," kata Semi (39), warga Sumbergempol.

Semi mengaku mengurangi belanja telur dan menunggu harga turun untuk belanja banyak seperti semula. "Kebutuhan telur kan tidak banyak. Untuk lauk sendiri. Jadi, biasanya tiap beli 2 kilo. Hari ini saya beli 1 kilo," tambahnya.

Pedagang telur di Pasar Ngemplak, Tulungagung, Eko Nurhadi (40), warga asli Gondang, mengatakan saat ini harga telur jauh lebih mahal dibandingkan saat menjelang Lebaran lalu. "Waktu mau Lebaran, harganya dianggap mahal, yaitu Rp 24.000 per kilogram. Sekarang di tempat saya, harga termahal sudah 27.000 rupiah," ungkapnya.

Kenaikan harga, menurut Eko, dipicu tingginya permintaan ke Jakarta sehingga mayoritas telur dikirim ke ibu kota. "Selama ini, selain dari Jawa, kebutuhan telur Jakarta kan juga dikirim dari Medan. Informasi yang saya dapat, saat ini yang dari Medan sedang kosong. Jadi, pasokan hanya dari Jawa," katanya.

Telur yang dijual Eko dari Blitar. Selain harga Rp 27.000 per kilogram seperti di toko milik Eko, ada yang dijual Rp 26.000 dan Rp 23.000 per kilogram. "Bedanya hanya ketebalan cangkangnya," jelas Eko.
Perbedaan lain adalah telur dengan harga Rp 27.000 per kilogram kuat disimpan selama satu bulan. Sedangkan yang berharga Rp 26.000 kuat disimpan selama 20 hari dan kualitas terburuk hanya bisa disimpan selama 15 hari. "Rasanya sama saja. Cuma pembelinya kadang fanatik yang cangkang tebal," ungkap Eko.

Naiknya harga telur ikut menurunkan jumlah pembeli. Padahal, menurut Eko, walau harga mahal dan murah, dirinya mengambil keuntungan sama, antara Rp 1.500 hingga Rp 2.000 per kilogram. Dalam satu hari, biasanya Eko bisa menjual minimal 1 kuintal telur. "Karena mahal, penjualan telur kurang dari 1 kuintal," ungkapnya.

Kebutuhan telur tetap menjadi prioritas bagi beberapa pengusaha makanan. Di antaranya penjual nasi goreng, martabak dan warung tetap butuh telur. (*)

Pewarta : Anang Basso
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top