Para warga binaan pemasyarakatan Lapas Wanita Klas IIA Sukun Malang saat menggelar sebagian hasil jahitan bendera raksasa. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Para warga binaan pemasyarakatan Lapas Wanita Klas IIA Sukun Malang saat menggelar sebagian hasil jahitan bendera raksasa. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



Kegembiraan dan euforia HUT ke-74 RI tak hanya terasa di lingkungan perumahan warga. Dari dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas) pun, berbagai kegiatan digelar untuk merayakan kemerdekaan. Di Lapas Wanita Klas IIA Sukun Malang, para perempuan warga binaan pemasyarakatan (WBP) tengah sibuk menjahit bendera "raksasa". 

Disebut raksasa, karena ukurannya tak lazim. Rangkaian kain warna merah dan putih dirangkai rapi dalam lembaran sepanjang 120 meter dengan lebar 120 sentimeter. Setidaknya 20 perempuan menekuni mesin jahit untuk menyelesaikan bendera tersebut sebelum 17 Agustus mendatang.

Kepala Lapas Wanita Klas IIA Sukun Malang Ika Yusanti mengatakan, selain bendera berukuran besar itu, para WBP juga menjahit bendera-bendera kecil dan umbul-umbul. "Nantinya bendera merah putih tersebut akan dipasang di gerbang dan halaman, lapangan upacara, juga umbul-umbul di lorong-lorong sebagai bentuk perayaan HUT RI," papar perempuan kelahiran Jakarta itu. 

Menurut Ika, kegiatan menjahit bendera ini baru kali pertama dilakukan. Alasannya, pertama untuk kegiatan praktik para WBP yang sudah mendapat pelatihan keterampilan menjahit. "Selain praktik, kan lebih hemat daripada membeli bendera. Kegiatan menjahit bendera ini juga sengaja dilakukan untuk membangkitkan rasa nasionalisme warga binaan," terangnya. 

Ika berharap, rasa nasionalisme itu juga sekaligus menumbuhkan semangat para penghuni lapas untuk berkarya. Selain menjahit bendera, pihaknya juga menggelar kegiatan menghias lingkungan dan blok tahanan. Hal itu dilakukan sebagai rangkaian kegiatan merayakan peringatan hari kemerdekaan RI. "Kami ingin mengajak warga binaan ikut merasakan euforia kemerdekaan, meski berada di kondisi yang terbatas karena di dalam tahanan. Jadi perayaan kemerdekaan tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang berada di luar lapas," ujar Ika. 

Kegiatan pelatihan menjahit ini, sambung Ika, sebenarnya merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan warga binaan. Selain kursus menjahit, ada kegiatan lain seperti merajut, kursus memasak, kursus membuat kue, serta membuat kerajinan tangan lainnya. Dengan sejumlah pelatihan itu, diharapkan warga binaan bisa memiliki keterampilan lebih ketika mereka telah bebas dari lapas.

Salah satu warga binaan, Diana mengaku tak ingin melewatkan kemeriahan perayaan hari kemerdekaan seperti masyarakat pada umumnya. Diana sendiri merupakan terpidana kasus penyalahgunaan narkoba dengan vonis hukuman 12 tahun penjara. "Kita memang sedang tidak merdeka karena berada di dalam lapas, tetapi kita juga ingin merayakan kemerdekaan dengan cara menjahit bendera ini," tuturnya di sela kegiatan menjahit. 

Dalam sehari, jahitan tersebut dikerjakan selama sekitar dua jam. Yakni satu jam setelah kegiatan pagi, di jeda istirahat siang, lalu dilanjutkan usai istirahat. Perempuan 27 tahun itu mengaku bangga bisa turut berkontribusi merayakan hari kemerdekaan di dalam lapas. Bagi Diana, tak ada kesulitan yang berarti ketika menyelesaikan karya bendera sepanjang 120 meter ini. "Kesulitan tidak ada, karena kita saling membantu dan kerjasama. Harapan saya di hari kemerdekaan tahun ini, Indonesia menjadi lebih baik lagi," pungkas wanita asal Bandung itu.


End of content

No more pages to load