Jokosiyo, duduk di kursi dan diantara ‎barang dagangannya. (Foto: Ferry/Malangtimes)
Jokosiyo, duduk di kursi dan diantara ‎barang dagangannya. (Foto: Ferry/Malangtimes)

JATIMTIMES, MALANG - Toko kerajinan berbahan baku rotan yang berada di Jalan Raya Balearjosari, Blimbing, Kota Malang, tampak sepi, meski kawasan ini berada di jalan yang dipadati kendaraan yang melintas dari arah Malang menuju Surabaya. Tak ada kendaraan yang berhenti untuk sekedar bertanya tentang apa yang dijual di deretan bedak yang berada di sisi barat jalan ini.

Jokosiyo, pria kelahiran Malang, 54 tahun tampak duduk di kursi rotan dagangannya sambil memandangi kendaraan bermotor yang hilir mudik di hadapannya. Puluhan karya kerajinan berbahan rotan memenuhi bedak berukuran sekira 9 x 9 meter ini. Mulai kursi, cup lampu, meja, tutup saji, lampit (tikar), penyekat, sampai ranjang bayi yang bisa digoyang-goyangkan. Semuanya berbahan rotan.

Produk kerajinan yang terpajang di deretan 10 bedak toko ini merupakan karya tangan warga Karangasem, nama sebuah kampung yang kini dikenal dengan Jalan Satria Barat, Kota Malang. Bedak toko miilik Jokosiyo merupakan salah satu yang menjualnya.

Joko, panggilan akrab ayah 5 anak ini, menuturkan rasa syukur dan keluh kesahya selama menjadi pedagang kerajinan rotan sejak 11 tahun lalu. Berdagang kerajinan memberinya rezeki lebih, dibanding saat menjadi buruh bangunan. Joko bersyukur, bedak toko tempatnya berjualan milik sendiri. 

Joko sempat berkeluh, sejak pembangunan trotoar di sepanjang Jalan Raya Balearjosari, toko-toko kerajinan rotan menjadi sepi. "Waktu belum ada trotoar, mobil bisa minggir (berhenti)," ucapnya. Sejak trotoar dibangun, jumlah pembeli menurun drastis. "Keuntungan turun sampai 50 persen," keluhnya.

Biasanya, sebelum ada trotoar, puluhan dagangannya laku terbeli dalam seminggu. Sejak dibangun trotoar, lanjut Joko, sekira tahun 2013, rata-rata hanya 1 orang pembeli dalam seminggu. "Kadang dalam seminggu, sama sekali gak ada pembeli," ujarnya. 

Saat sepi, kesabaran menjadi kunci. Joko tetap berharap ada pembeli datang, atau pengunjung yang sekedar bertanya. Kerap sepi, antar pedagang suka bercanda dengan pertanyaan, "Ngitung montor wes oleh pirang ewu? (menghitung mobil sudah dapat berapa ribu)" sebuah ungkapan yang bermakna lamanya menunggu pembeli yang tak kunjung tiba.

Adanya trotoar yang dibangun dengan kondisi lebih tinggi dari jalan, membuat kendaraan bermotor, khususnya mobil tak lagi bisa berhenti. Kalaupun ada mobil pengunjung atau pembeli, lokasi parkirnya akan relatif jauh dari tokonya yang berada di deretan ketiga dihitung dari arah selatan. "Biasanya, tempat parkirnya itu juga mengganggu arus kendaraan yang ke riverside," terang Joko menyebut kawasan perumahan yang dekat dengan tokonya.

Namun, meski kondisi berbeda, penghasilan Joko dari berjualan kerajinan rotan boleh disebut lumayan. Dalam sebulan, Joko bisa memperoleh keuntungan bersih Rp 6 juta. "Lumayan, Mas, dibanding waktu jadi buruh dan penjahit kursi," tambahnya.

Joko hanya berharap, dagangannya semakin laris. Meski dia hanya memilih berjualan di tokonya, tanpa mencoba cara lain untuk memasarkannya. Sempat penulis 'memancing'  dengan ide berjualan online. Joko punya pendapat. "Saya gak minat, Mas. Biar pembeli datang sendiri langsung ke sini, lihat barangnya dan bisa memilih dan merasakannya langsung. Kalau online kan cuma foto-fotonya saja," ujarnya sambil tersenyum. (*)