Ilustrasi pencari kerja yang didominasi perempuan. (Istimewa. analisa dailynews)
Ilustrasi pencari kerja yang didominasi perempuan. (Istimewa. analisa dailynews)

Ada yang unik dengan data di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang. Dari data pencari kerja tahun 2016, tercatat warga Kabupaten Malang dengan jenis kelamin perempuan mendominasi bursa lowongan kerja dibandingkan dengan laki-laki.

Padahal, dari komposisi penduduk yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malang, laki-laki mendominasi populasi yang ada. Yaitu jumlah laki-laki tercatat sebanyak 1.286.867 jiwa. Sedangkan perempuan adalah 1.273.808 jiwa. 

Ada sekitar 2.250 jiwa pencari kerja berjenis kelamin perempuan tahun 2016 yang memenuhi ceruk-ceruk perusahaan. Baik di tingkat lokal atau daerah, antardaerah sampai antarnegara. Sedangkan untuk laki-laki, hanya sebanyak 313 jiwa yang ikut bertarung dalam perebutan kerja. 

Yoyok Wardoyo, kepala Disnaker Kabupaten Malang, mengatakan komposisi pencari kerja memang masih didominasi kaum hawa di Kabupaten Malang. Tren perusahaan yang masih menganggap perempuan lebih ulet, rajin, cekatan dalam bekerja masih dijadikan parameter. “Ini yang terjadi tahun lalu. Tapi tren pencari kerja tahun ini pun masih didominasi perempuan. Terutama di perusahaan-perusahaan yang ada di Kabupaten Malang ini,” terang dia, Minggu (24/09).

Walaupun total pencari kerja yang terdaftar di Disnaker tidak secara keseluruhan terserap perusahaan di dalam dan antardaerah, antusiasme untuk mengubah nasib melalui pekerjaan formal masih menjadi impian masyarakat Kabupaten Malang, khususnya perempuan.

Data Disnaker mencatat penempatan tenaga kerja yang terdaftar menurut program kerja pada tahun 2016 sebanyak 2.563 jiwa. Jumlah itu terdiri atas penempatan antarkerja lokal (AKL) 53 jiwa,  antar-kerja antar-daerah (AKAD) 14 jiwa, dan antar-kerja anta-negara 2.496 jiwa. “Kebanyakan perempuan yang terdaftar sebagai pencari kerja terserap di AKAN, yaitu sebagai TKI. Ini dikarenakan juga latar pendidikan para pencari kerja perempuan,” kata Yoyok kepada MalangTIMES.

Seperti diketahui, dari total pencari kerja sebanyak 2.563 jiwa, 1.126 jiwa didominasi latar pendidikan SMP. Latar pendidikan tersebut tentunya sulit untuk bersaing di dalam daerah yang kini mulai dibanjiri para pencari kerja dengan latar pendidikan minimal SMA maupun S-1. Pilihan menjadi TKI di luar negeri pun menjadi salah satu strategi para perempuan dalam mengejar impiannya, yaitu menjadi sejahtera secara ekonomi.

Di urutan kedua terbanyak pencari kerja adalah mereka yang memiliki ijazah SMA, yaitu sebanyak 769 jiwa. Diikuti oleh warga berpendidikan SD sebanyak 649 serta D1-D3 di urutan keempat dengan jumlah pencari kerja sebanyak 18 jiwa.

Para pencari kerja tersebut juga setiap tahunnya dalam kontek pendidikan mengalami perubahan-perubahan keterampilan atau kejuruan. Tahun 2016, keterampilan pencari kerja didominasi oleh mereka yang memiliki keahlian dalam bidang komputer, yaitu sejumlah 414 jiwa. “Selain hal tersebut, keahlian komputer ini meningkat kebutuhannya dari dua tahun belakangan ini,” ucap Yoyok.

Dia juga mengatakan ada kemampuan yang mencolok tahun 2016 lalu. Yaitu keterampilan menguasai bahasa Korea sebanyak 115 jiwa. Kemampuan bahasa Korea ini sejak 2014-2015 secara data tidak ada. “Kemampuan berbahasa asing menjadi hal yang semakin diutamakan. Terutama bagi mereka yang akan menjadi TKI formal di luar negeri atau di dalam negeri sendiri,” pungkas Yoyok. (*)