Dari warga inilah, pengabdian tulus M. Arif Karnawan, bhabinkamtibmas Polsek Donomulyo, terkuak. Selama empat tahun pengabdian Arif dengan sengaja ditutupinya sendiri. (Nana)
Dari warga inilah, pengabdian tulus M. Arif Karnawan, bhabinkamtibmas Polsek Donomulyo, terkuak. Selama empat tahun pengabdian Arif dengan sengaja ditutupinya sendiri. (Nana)

Kebesaran hati dan ketulusan mengabdi bertahun-tahun anggota Polsek Donomulyo, Kabupaten Malang, ini kepada masyarakat baru terkuak oleh adanya penuturan warga setempat.  Selama hampir empat tahun, hidup M. Arif Karnawan, bhabinkamtibmas Desa Donomulyo, Kecamatan Donomulyo, diberikan untuk kepentingan warga.

Tanpa mengenal waktu, Arif melebur dengan berbagai keterbatasan warga yang didampinginya. Pikiran, tenaga bahkan materi yang tidak seberapa dimilikinya dengan ikhlas dia serahkan untuk kepentingan warga.

Bahkan, kepentingan keluarganya dia taruh di bawah kepentingan warga. Ketulusan, pengabdian dan pengorbanan Arif selama ini jarang sekali diketahui. Apalagi terekspos media massa. Dia mengabdi di jalan sunyi. Jalan yang tidak riuh dengan segala tepuk tangan, penghargaan, maupun keinginan pribadi sebagai manusia.

Kapolsek Donomulyo AKP Sardikan sebagai atasannya pun sempat kaget dan terlongo saat masyarakat setempat begitu mengelu-elukan Arif. “Laporan tugasnya sebagai anggota sama dengan yang lain kepada saya. Ternyata di baliknya terdapat sesuatu yang begitu besar. Sesuatu yang saat ini mungkin tidak akan diambil sebagai jalan hidup,” ata AKP Sardikan, Minggu (24/09).

Betapa tidak. Pengabdian Arif, seperti yang disampaikan warga setempat, bisa membuat siapa pun meneteskan air mata. Nardi yang didampingi Muji menceritakan bagaimana sosok Arif yang memang tidak pernah menonjolkan dirinya, baik kepada atasannya maupun kepada media. 

“Saat ada warga sakit dan harus dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar, Pak Arif-lah yang menanggung biaya berobatnya. Padahal uang yang dipergunakannya itu untuk membayar sekolah anaknya,” ucap Nardi.

Tidak sekadar membayar biaya pengobatan saja. Arif juga yang mengantarnya ke RSSA Malang dengan mobil Polsek Donomulyo. Di sana, Arif seharian menunggui warga yang sakit tersebut. “Padahal kita tahu Pak Arif juga sedang membutuhkan uang untuk sekolah anaknya. Dapat kabar untuk itu beliaunya sampai berutang,” ujar Nardi.

Tidak sekadar itu. Saat musala di Dusun Mulyosari, Desa Donomulyo, rusak dan membutuhkan kayu untuk memperbaikinya, Arif kembali jadi tumpuan harapan warga. Tidak dengan mempergunakan fasilitas kantor. Kembali Arif yang waktu itu akan membangun rumahnya dan mengumpulkan material secara bertahap memberikan kayu untuk memperbaiki musala.

“Kayu untuk bangun rumahnya beliau kasihkan. Bahkan Pak Arif ikut serta bersama warga membangun musala. Dan ini tidak hanya satu dua kali. Sering kalau sudah urusan membangun musala, beliaunya pasti serahkan yang dimilikinya,” ungkap Nardi yang juga menyatakan Arif bukan orang kaya secara materi.

Pengabdian Arif itu membuat warga Desa Donomulyo sangat berharap Arif bisa menjadi kepala desa-nya. Walaupun hal tersebut dengan halus ditolak oleh Arif. Baginya menjadi bhabinkamtibmas Polsek Donomulyo sudah merupakan jalan hidup pengabdiannya selama ini.

Hal lain yang tidak mungkin dilupakan oleh warga adalah saat warga mengalami kekeringan. Donomulyo memang menjadi salah satu wilayah yang kerap dilanda kekeringan saat musim kemarau panjang tiba. Kebutuhan air menjadi prioritas warga dan tidak bisa ditunda. Dalam rembuk desa, maka disepakatilah adanya pembangunan penampung air serta pipanisasi.

“Kami dengan Pak Arif-lah yang sejak awal mencari sumber air sampai akhirnya warga bisa mencukupi kebutuhannya. Ini pun banyak sekali yang beliaunya kasih kepada kami,” kenang Muji, ketua RT setempat.

Dari uang pribadinya sebesar Rp 500 ribu, warga mulai secara bergotong-royong membangun jaringan air. Siang, malam sampai pagi, Arif bersama warga bahu-membahu. Tujuannya, saat musim kemarau, warga masih bisa mempergunakan air. “Saat itu bulan puasa. Pak Arif yang kita mintai tolong jam berapa pun pasti datang dan membantu kami dalam membangun jaringan air ini. Bahkan sampai subuh pun, beliaunya ada bersama kami,” kata Muji.

Dari perjuangannya tersebut, Arif diapresiasi Kapolres Malang AKBP Yade Setiawan Ujung yang memiliki program reward setiap bulan terhadap anggota berprestasi. Itu pun bukan karena Arif melaporkan pengabdiannya kepada atasannya, tapi karena tangan kasat binmas Polres Malang. “Arif ini tidak mau menonjolkan prestasinya. Bahkan terkesan setiap pengabdiannya dia tutupi. Foto yang mendapat apresiasi dari kapolres itu pun saya yang kirimkan,” kata AKP Ainun Djariah, kasat binmas Polres Malang, kepada MalangTIMES.

Hasil dari apresiasi kapolres Malang berupa uang ini pun tidak dipakai oleh Arif. Bahkan, kata Muji, uang tersebut diserahkan seluruhnya untuk menambah material jaringan air warga. “Waktu itu beliaunya ngomong. Ini ada uang untuk nambah beli pipa dan lainnya. Saat ditanya uang dari mana, beliaunya tidak menjawab,” kata Muji yang akhirnya baru mengetahuinya bahwa uang tersebut adalah hadiah dari kapolres Malang untuk Arif.

Arif adalah polisi yang terus berjuang membebaskan dirinya dari cahaya dunia. Membebaskan dari riuhnya puja puji sesaat. Baginya, jalan yang telah dilakukannya bertahun-tahun ini sebagai bhabinkamtibmas adalah cara untuk menjadi manusia. Manusia yang utuh, manusia yang mampu menghadirkan kemanusiannya di dalam kesempitan manusia sekitarnya. Teruslah mengabdi, Pak Arif. (*)