Kemah Sastra Nasional Banyuwangi Ditandai Peluncuran Buku Puisi "Senyuman Lembah Ijen"

Ratusan peserta Kemah Satra Nasional yang berdatangan dari berbagai kotavdi Indonesia maupun Mancanegara
Ratusan peserta Kemah Satra Nasional yang berdatangan dari berbagai kotavdi Indonesia maupun Mancanegara

JATIMTIMES, BANYUWANGI – Pergelaran Kemah Sastra Nasional di Banyuwangi pada Sabtu-Minggu (28-29/4/18) dihadiri sastrawan terkemuka Indonesia. Kemah yang dibuka Bupati Abdullah Azwar Anas bertepatan dengan Hari Puisi Nasional itu dihadiri sastrawan Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron, Ahmadun Yosi Herfanda, dan Wayan Jengki Sunarta. Selain itu tampak pula sutradara Garin Nugroho dan Ketua Dewan Kesenian Blambangan Samsudin Adlawi.

Bupati Azwar Anas mengatakan, digelarnya Kemah Sastra tersebut sebagai cara untuk meningkatkan budaya literasi generasi muda.
“Kami mendorong tumbuhnya budaya menulis dan membaca. Semoga anak-anak muda kita mendapat banyak inspirasi dari para sastrawan hingga akhirnya mampu menciptakan ide dan menuangkannya melalui karya sastra," ujarnya.

Pembukaan Kemah Sastra Nasional yang berlangsung di Resor Jiwa Jiwa di kaki Gunung Ijen ini diikuti ratusan penyair muda dari dalam dan luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Mozambik. Dari dalam negeri, hadir pegiat sastra Pekanbaru, Lombok, Bali, Pangkalpinang, Banten, Ambon, Yogyakarta, Solo, Bogor, Sukabumi, dan Jakarta.

Para peserta mengikuti workshop penulisan cerpen dan puisi oleh sastrawan Ahmadun Yosi Herfanda dan Hasan Aspani. “Ini akan menjadi sarana untuk berbagi pengalaman dalam menggeluti dunia sastra. Sehingga para peserta, anak-anak muda pegiat sastra, bisa semakin matang dalam bersastra,” kata Ketua Dewan Kesenian Blambangan, Samsudin Adlawi.

Selain workshop, para peserta menyaksikan penampilan para maestro sastra tanah air membawakan karya puisi maupun rangkaian pesan yang sarat makna. Seperti penyair D. Zawawi Imron yang membacakan puisi berjudul “Desaku”. Zawawi membacakan puisi tersebut bergantian dengan Bupati Anas.

Lalu Sutardji Calzoum Bachri yang memberi ceramah soal sastra Indonesia. Sastrawan berjuluk “Presiden Penyair” itu juga membacakan sejumlah puisi.

“Kita sebagai penyair menciptakan makna, kata-kata menciptakan penyair. Penyair menciptakan puisi. Dengan puisi bisa lapang pikiran dan menumbuhkan empati,” cetusnya.

Kemah Sastra Nasional juga menghadirkan sutradara Garin Nugroho yang menampilkan sebuah monolog. Garin mengatakan langkah Banyuwangi dalam mempertemukan tokoh-tokoh sastra nasional dengan generasi muda sangat baik. 

“Metode mengundang sastrawan untuk dipertemukan anak-anak muda untuk berbagi pengetahuan dan metode serta berbagi cara menghormati kata adalah sesuatu yang sangat luar biasa,” kata Garin.

Hal senada juga dilontarkan Sutardji Calzoum Bachri. Menurut dia, Kemah Sastra yang berhasil mendatangkan anak-anak muda ini menunjukkan optimismenya bahwa sastra masih diminati masyarakat luas.

“Saya senang Banyuwangi bergeliat membangun tradisi literasi melalui kegiatan sastra. Ini jadi bekal meningkatkan kualitas SDM, memperkaya peradaban kita, yaitu peradaban yang merawat bahasa,” ujarnya.

Acara Kemah Sastra itu juga ditandai dengan peluncuran buku kumpulan puisi berjudul “Senyuman Lembah Ijen” yang memuat 190 puisi tentang keindahan dan kehidupan Gunung Ijen. Puisi-puisi itu dikurasi dari 600 puisi yang masuk ke panitia yang berasal dari dalam dan luar negeri. Ada pula peluncuran 20 buku sastra karya sejumlah penyair muda Banyuwangi. 

Pewarta : Hakim Said
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Banyuwangi TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top