Dinkes Kabupaten Blitar Sosialisasikan Penanganan Penyakit TB Kebal Obat

On The Job Training "Tuberkolosis Resistance Obat" yang digelar Dinkes Kabupaten Blitar (Foto : JatimTIMES)
On The Job Training "Tuberkolosis Resistance Obat" yang digelar Dinkes Kabupaten Blitar (Foto : JatimTIMES)

JATIMTIMES, BLITAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar terus melakukan upaya pengobatan terhadap penderita tuberkolosis (TB) di wilayah tersebut. Hal ini untuk menghindari penularan penyakit, khususnya kepada penderita TB yang kebal obat.

Bertempat di Aula Dinas Kesehatan, Jumat (4/5/2018), Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2M) Dinkes Kabupaten Blitar menggelar On The Job Training Tuberkolosis Resistance Obat dengan peserta dokter, pelaksana program TB  dan pelaksana farmasi dari 11 Puskesmas.  Workshop ini menghadirkan dua narasumber masing-masing Eko Wahyudi (Kasi P2M Dinkes Kabupaten Blitar) dan dr Rofiq Achmad dari Puskesmas Kesamben.

Menurut Eko Wahyudi,  kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mempersiapkan puskesmas di masing-masing wilayah untuk cepat tanggap dan aktif menangani penderita TBC kebal obat. Di Kabupaten Blitar ada 24 Puskesmas. Dari jumlah itu ada 13 puskesmas  yang sudah menangani penderita TBC kebal obat. Sementara 11 puskesmas belum pernah menangani dan hari ini mengikuti sosialisasi, diantaranya Puskesmas Talun, Bakung, Doko, Wonodadi, Selopuro, Nglegok.

“Penderita TB kebal obat harus ditangani secara khusus di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang. Setelah ditangani di sana, pasien akan dirujuk balik ke puskesmas dimana penderita itu tinggal. Untuk menjalankan mekanisme itu dibutuhkan penatalaksanaan dan pengobatan. Pengobatan penderita TB kebal obat berbeda dengan penderita TB reguler. Untuk TB kebal obat ini diobati dengan obat TB reguler sudah tidak mempan,” kata Eko Wahyudi.

Setelah ditemukan dan dirujuk oleh Puksesmas, Di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang penderita akan ditangani selama beberapa hari. Selama menjalani perawatan kesehatan di Malang, penderita TB kebal obat akan menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan dan kondisi penderita untuk menentukan pengobatan terhadap yang bersangkutan.

“Pengobatan TB kebal obat ini harus dilakukan dalam waktu jangka panjang. Yang model lama itu bisa 19 sampai 24 bulan. Tapi sekarang ada metode baru 9 bulan.Nanti yang menentukan  model pengobatan adalah tim ahli klinis RS Syaiful Anwar. Karena pengobatanya lama tidak mungkin dirawat di sana terus. Sehingga pasien akan dirujuk balik ke puskesmas tempat tinggalnya. Nanti puskesmas akan melanjutkan pengobatan sampai dengan sembuh, obatnya ada di RS Syaiful Anwar dan akan dikirimkan ke puskesmas,” jelasnya.

Dijelaskan, hingga awal Mei 2018 Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar menemukan 26 penderita TBC kebal obat di wilayahnya. Dari jumlah tersebut, 7 penderita berhasil disembuhkan. Sementara 8 orang masih dalam proses pengobatan dan 6 orang tidak melanjutkan pengobatan.

 “Dari jumlah itu ada 6 orang yang tidak melanjutkan pengobatan alias drop out dan 5 diantaranya meninggal dunia. Lewat sosialisasi ini kita berharap, apabila nanti puskesmas menemukan penderita TBC kebal obat mereka sudah siap untuk melanjutkan pengobatan di RS Syaiful Anwar, ” terang Eko.

Orang yang terdeteksi mengidap penyakit tuberkulosis atau TB harus segera diobati agar tidak menularkan penyakit pada orang lain. Pengobatan harus dilakukan sampai tuntas. Menurut Eko, TB kebal obat diakibatkan diantaranya pasien TB reguler yang tidak patuh minum obat. Penyebab lain, tertular dari penderita TB kebal obat yang ada di sekelilingnya. TB kebal obat juga bisa disebabkan penderita TB reguler membeli obat sendiri dan  mendapatkan obat yang tidak standart yang tidak sesuai dengan standart obat yang ditetapkan pemerintah.

“Pasien tuberkulosis (TB) jika berobat ke rumah sakit  tidak dikenakan biaya atau gratis, karenanya Dinas Kesehatan mengimbau pasien segera berobat jika sudah positif terjangkit penyakit menular tersebut. Untuk pengobatannya gratis sampai sembuh, ini program pemerintah pusat. Penyakit TB kebal obat apabila tidak gratis biaya berobatnya bisa ratusan juta,” pungkasnya.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Alfin Fauzan
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top