Oryza Oh Oryza

 Rully Efendi

Rully Efendi


Editor


Oryza Ardyansah, saya lihat di rekaman video amatir. Dia tampak terburu-buru masuk ke tengah lapangan sepakbola Jember Sport Garden (JSG). Memegang handphone (Hp), mengarahkan kamera Hp miliknya ke wasit yang mulai dikeroyok pemain sepakbola, usai pertandingan Persid Vs Sindo Dharaka, Rabu (4/7/2018) sore.

Oryza yang mengenakan kaus putih bersablon PSSI, terus memburu pertikaian pemain sepakbola dengan jepretan kamera Hp-nya. Sampai ke pinggir lapangan. Sampai kemudian, terlihat rekaman seperti sedang berdebat, kemudian giliran wartawan senior itu yang dikeroyok menggantikan wasit.

Oryza jatuh. Oryza dikeroyok, dibogem, tapi terlihat paling sering diinjak pemain yang masih bersepatu sepakbola. Pasti jauh lebih sakit, karena sepatu pemain bola bergigi. Ketambahan lagi serangan pria berseragam seperti anggota TNI. Sepatunya juga lumayan mantab, bersarang ke tubuh Oryza yang tambun dan mulai ndlosor di aspal stadion.

Oryza menangis. Bukan cengeng. Tapi lebih karena prihatin, sebab saat dihajar, anak kandungnya yang masih berumur 12 tahun, tahu ayahnya dihajar membabi buta. Anaknya syok. Sebab melihat langsung, sang ayah dikeroyok mirip maling motor yang ketangkap tangan massa.

Oryza pun menulis di akun Facebook miliknya,  Oryza Ardyansyah : Bagaimana perasaan seorang anak berusia 12 tahun jika ayahnya dipukuli dan dikeroyok di depan matanya. Salam satu nyali. Dia menulis di sela-sela laporan ke Polres Jember, Rabu malam.

Oryza yang mengeluh sakit di bagian rusuk kanannya, akhirnya dirawat di RS Jember Klinik. Sejumlah wartawan pun bersikap. Tiga organisasi profesi kewartawanan : PWI, AJI, dan IJTI, kompak mengecam pengeroyokan wartawan yang sedang melakukan peliputan. Protes hingga tuntutan mengadili pelaku, dilancarkan melalui siaran press.

Oryza, kasusnya dijamin Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, akan digarap serius bahkan penanganannya diprioritaskan.  Janji itu disampaikan kapolres usai menjenguk wartawan beritajatim.com, bersama Komandan Subdenpom TNI di ruang inap RS Jember Klinik, Kamis (5/7/2018) pagi. 

Oryza, jadi potret bahwa kekerasan terhadap jurnalis masih tinggi dan mengancam siapa pun wartawannya. Sekarang Oryza, besok, lusa, bisa tunggu giliran wartawan lainnya jadi korban. Karena aparat tak jaminan melindungi wartawan. Bahkan malah jadi 'monster' yang ikut-ikutan mengeroyok pekerja media.

Saya yang adik Oryza, mengutuk keras tindakan brutal pemain bola, apalagi jika benar ada anggota TNI yang ikut mengeroyok, seperti yang terekam video amatir. Polisi dan PM, giliran kalian menunjukkan profesionalitas kerja mengusut kasus keji hingga tuntas. Jangan sampai publik dipaksa tak percaya kinerja anda.

Oleh : Rully Efendi

*Dari seorang wartawan di Jember.

End of content

No more pages to load