Ilustrasi (Ist)

Ilustrasi (Ist)


Pewarta

Editor


*dd nana

Sesekali bolehlah saya curhat. Bukan tentang bagaimana rasanya hidup dalam lilitan hutang. Atau jatuh bangunnya hati saat melonggok rumput tetangga yang aduhai.

Tapi curhat saya tentang gaya hidup yang telah menjadi kiblat umat manusia. Dan karena saya masih manusia,  maka saya jadi salah satunya dalam kumparan gaya hidup tersebut. 

Gaya hidup,  kenapa juga disebut pakai kata gaya dan ditambahi ekor hidup, kerap membuat saya ngos-ngosan. Coba kalau diganti kata lain, misalnya pelengkap hidup atau sabar hidup, atau  ikhlas hidup. Mungkin tidak membuat saya megap-megap untuk bergaya dalam hidup. 

"Lo emang kenapa kok bisa sampe ngos-ngosan cak? Emang gaya hidup seperti apa sih yang pean omongkan itu? " ucap Sokib terheran-heran. 

Aku menatap Sokib cukup lama,  dan menjawabnya, "Sumpah sebenarnya aku iri sama ente Kib. Hidup merdeka tanpa ikut imam gaya hidup," ucapku kepada Sokib yang semakin bingung dirinya disebut merdeka itu. 

Aku pun bercerita. Atau tepatnya curhat pada Sokib yang jenis kelaminnya sama dengan saya ini. Sumpah saya takut kalau curhat sama lawan jenis. Buntutnya pasti panjaanggg. Akhirnya terikat lagi dengan satu gaya hidup yang kini jadi kiblat manusia. Gaya hidup memiliki WIL. Repot kan? Padahal saya telah berikrar untuk setia. 

"Setiabudi jurusan Malang-Tulungagung- Solo tah Cak? " kekeh Sokib. 

Pemakaian kata gaya sudah menunjukkan bahwa ada suatu fase untuk kita berubah dari biasanya. Perubahan itu hukumnya dari yang biasa-biasa atau minus naik derajatnya jadi tidak biasa yang plus plus. Kalau dulu pijit ya hanya pijit saja, kalau ingin gaya harus dirubah. Kalau dulu pacaran pegangan tangan saja sudah bikin jantung kaya genderang perang. Kalau pingin gaya dirubah,  jadi pegangan,  rangkulan,  ciuman-ciuman. Dan tidak lupa foto-fotoan sampai bikin film-film an yang bikin studio vivid, bangbross,  americanaugthy punya saingan.  

Kembali ke kata gaya yang juga berarti "obah" itu. Maka komunikasi pun agar lebih gaya pake juru bicara. Smartphone berahim medsos jadi pilihan kita agar gaya. "Eh loe punya Ig kagak?" tulis teman melalui pesan WA. 

"Gendeng tah kowe bro, aku duduk di sisimu ngomong pake hape,"ucapku sewot sambil menjawab, "Kagak Punya!!?! ". 

"Duh kolot loe kagak gaya blas, " balas temanku. Masih pake pesan WA jawabnya atas kekesalanku. 

Nah,  gaya-gaya itu yang terus di-hidup-kan. Belum gaya yang memang gaya. Misalnya gaya-gaya an memakai kendaraan roda empat di jalan yang hanya bisa dilewati dua kendaraan roda dua saja. Itu pun salah satunya harus mengalah ke tepi tembok rumah di pinggir jalan. 

Gaya yang ini memang gaya dan bikin saya selalu ngiler walau tidak sampai terbawa mimpi. Gaya bermobil ria walau tahu kesulitan di jalanan yang semakin padat merayap dikarenakan gaya hidup ini. 

Gaya lainnya? Buaanyaak wis,  kagak usah di uraikan. Yang pasti saat gaya-gaya yang terus diproduksi para pemilik modal ini setiap hari,  minggu,  bulan atau tahun dijadikan hidup,  maka lahirlah keruwetan. Keruwetan dalam hidup saya,  maksudnya. 

Bagaimana tidak mumet,  kalau segala kebutuhan personal wajib disamakan. Dengan dasar gaya hidup. Bagaimana tidak teler kalau penghasilan hanya dua juta sebulan (nih dah sesuai umr kabupaten/kota) harus diseret dalam kepentingan pabrikan. Rahim yang terus beranak pinak produk gaya hidup. 

"La kok ruwet yak ga usah melu-melu toh Cak. Gampang toh," solusi Sokib. 

"Nah itu Kib makanya aku iri sama kamu. Kamu itu orang merdeka. Tidak terseret dan diseret-seret gaya hidup," ucapku. 

Bahkan urusan perut nih,  Kib, lanjutku. Tidak bisa lepas dari gaya hidup. Padahal perut ini diisi sego pecel sama es teh di warung Mbok Yunem,  selesai sudah. 

Tapi orang-orang telah jadi makmumnya imam gaya hidup. Yang punya duit berbondong-bondong buka restoran,  cafe, dan lain-lain. Dengan segala menu makanan yang sesuai gaya hidup. Orang-orang yang lapar gaya hidup,  berbondong-bondong,  memasukinya. Klop sudah. 

Ini mirip para politisi kita. Sudah bosen di partai merah,  pindah ke partai ijo. Kalau sudah boring banget di warna-warna konvensional,  buka lapak parpol baru.

"Terus yang diratapi apa Cak. Emang hidup harus berubah toh? Mosok kayak aku yang gini-gini aja," ujar Sokib. 

"Aku meratapi hidupku yang seharusnya tidak jadi makmum gaya hidup,  Kib. Tapi yo durung iso," ratapku yang siap-siap mengganti produk hape agar terlihat gaya di mata para makmum gaya hidup lainnya. 

*Penikmat kopi lokal gratisan

End of content

No more pages to load