Petani Kopi Wonosalam Mulai Kembangkan Kopi Excelsa Organik

Salah Satu Petani Kopi Excelsa Organik Wonosalam di Dusun Mediro, Desa Panglungan, Imam Khoiril, Terlihat Sedang Memetik Buah Kopi Yang Berwarna Merah. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Salah Satu Petani Kopi Excelsa Organik Wonosalam di Dusun Mediro, Desa Panglungan, Imam Khoiril, Terlihat Sedang Memetik Buah Kopi Yang Berwarna Merah. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

JATIMTIMES, JOMBANG – Keberadaan kopi Jenis Excelsa memang sudah lama tersebar di wilayah pegunungan di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang. Namun, akhir - akhir ini, para petani kopi di Dusun Mediro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, mulai mengembangan kopi excelsa organik.

Meski kopi excelsa organik dengan kopi excelsa biasa, sama - sama ditanam di ketinggian 600 meter diatas permukaan laut (mdpl), tetapi ada beberapa hal yang membedakan antara dua jenis kopi asli pegunungan wonosalam ini.

Imam Khoiril (28), salah satu petani kopi yang sedang mengembangkan kopi excelsa organik di Dusun Mediro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam ini, menjelaskan bahwa ada perbedaan dalam melakukan perawatan pohon kopi excelsa organik tersebut.

Menurutnya, untuk merawat pohon kopi excelsa organik tersebut, pemupukan harus menggunakan kotoran hewan, seperti kambing ataupun kotoran sapi yang sudah dicampur dengan formula pupuk organik lainnya.

Sebelumnya, pengolahan tanah juga diperhatikan, untuk menghilangkan unsur kimia yang terkandung dalam tanah. "Yang berbeda itu kondisi tanahnya, kita harus betul-betul menetralisir dulu dari zat-zat kimia. Itu butuh proses panjang. Kemudian kita harus mempertahankan kondisi tanah yang kita arahkan sebagai lokasi kebun organik. Untuk pupuknya juga harus organik, menggunakan kotoran hewan," ungkap Khoiril saat diwawancarai JombangTIMES, Sabtu (28/7).

Ada hal yang beda saat Khoiril memanen biji kopi di perkebunan kopinya, khoiril terlihat hanya memetik biji kopi yang sudah berwarna merah.

Disinggung mengenai hal tersebut, Khoiril menjelaskan bahwa proses pemetikan biji kopi dengan hanya mengambil buah sudah berwarna merah, merupakan salah satu proses petik kopi yang membedakan antara kopi excelsa biasa dengan yang organik.

Kopi excelsa organik, lanjut Khoiril, memang harus dipetik buah yang sudah berwarna merah. Dan yang belum berwarna merah sempurna, tidak dipetik untuk menjaga kualitas rasa dari kopi excelsa organik tersebut. "Kalau memetik, kita harus pakek proses petik merah mas, yang warnanya sudah benar-benar berwarna merah. Kalau yang biasanya, masyarakat sini masih banyak yang saat memanen kopi, ya dipanen semua mas. Disini kita lebih selektif," bebernya.

Sementara dari segi rasa, perbedaan kopi excelsa organik, dikatakan Khoiril, terletak pada tingkat keasaman kopi. Kopi excelsa organik rasa asam kopinya lebih tinggi ketimbang kopi excelsa biasa. "Kalau excelsa organik di wonosalam ini, rasa asamnya lebih tinggi," ujarnya.

Sedangkan saat ditanya mengenai harga dari kopi excelsa organik wonosalam, Khoiril mengatakan bahwa setiap satu kilonya dijual dengan harga Rp 60 ribu. Harga segitu, merupakan kopi yang masih berupa biji, dan belum melalui proses roasting (goreng kopi, red). "Kalau untuk yang organik harganya Rp 60 ribu, itu yang masih green bean (biji kopi hijau). Kalau yang bukan organik di pasar umumnya Rp 35 ribu," pungkasnya.(*)

Pewarta : Adi Rosul
Editor : A Yahya
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Jombang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top