Sejumlah Warga di Wonosalam Tinggalkan Elpiji dan Beralih ke Biogas

Urip Sumoharjo (35), Warga Dusun Dampak, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, sedang Mengelola kotoran sapi untuk dijadikan biogas. (Foto: Adi Rosul/ JombangTIMES)
Urip Sumoharjo (35), Warga Dusun Dampak, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, sedang Mengelola kotoran sapi untuk dijadikan biogas. (Foto: Adi Rosul/ JombangTIMES)

JATIMTIMES, JOMBANG – Warga Dusun Dampak, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, mulai memanfaatkan kotoran hewan ternak untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi biogas, dalam kehidupan sehari - hari.

Sumber energi biogas tersebut, kini telah menggeser gas elpiji yang sebelumnya dimanfaatkan warga Dusun Dampak, Desa Panglungan untuk keperluan rumah tangga.

Hal itu seperti yang dijelaskan oleh Urip Sumoharjo (35), warga Dusun Dampak yang sehari - hari berprofesi sebagai peternak sapi. Menurut Urip, pemanfaatan kotoran hewan ternak menjadi biogas ini, sudah berjalan sejak 2013 lalu.

"Ini sudah dari 5 tahun yang lalu mas, saya menggunakan biogas. Sangat efisien sekali, bisa untuk dibuat masak, ketimbang menggunakan elpiji ataupun kayu bakar," ujar Urip saat diwawancarai, Sabtu (28/7).

Lebih lanjut, Urip menunjukkan proses pembuatan biogas dari kotoran sapi di kandang ternak yang tak jauh dari kediamannya. Di situ, Urip menjelaskan cara pembuatan biogas, mulai dari pengumpulan kotoran sapi hingga menjadi gas metana.

Proses pertama pembuatan biogas, lanjut Urip, dimulai dari proses penggilingan kotoran sapi dengan alat bernama Digester. Digester merupakan sebuah alat yang berbentuk seperti sumur air dengan kedalaman 1 meter, yang didalamnya ada sebuah alat penggilingan dari bahan besi.

Setelah digiling di alat Digester, kotoran sapi yang sudah dilarutkan dengan campuran air itu, kemudian dialirkan ke bak penampungan yang tertanam di bawah tanah. Di bak penampungan tersebut, lanjut Urip menerangkan, terdapat reaktor yang mengubah kotoran sapi menjadi gas metana.

"Setelah kotoran ini terkumpul di Digester dan digiling hingga menjadi cair, kemudian masuk ke bak penampungan dan dikontrol untuk menyaring sampahnya. Lalu masuk ke reaktor, di reaktor tersebut ada penampungannya untuk menyimpan gas metan yang telah dihasilkan melalui reaktor. Kalau sudah terkumpul di situ (tempat penyimpanan gas metan, red) tinggal menyalurkan ke rumah, melalui alat pengontrol," beber Urip menjelaskan proses pembuatan biogas.

Selain itu, Urip juga menjelaskan bahwa dengan alat Digester berukuran 1 meter tersebut, bisa menampung kotoran hingga 50 kilogram. Kapasitas seperti itu, menurut Urip, bisa menghasilkan biogas yang bisa dimanfaatkan hingga 15 hari pemanfaatan.

"Ini kalau full bisa sampai 50 kilo. Hasilnya (biogas, red) bisa digunakan hingga 15 hari, kalau pemakaiannya nonstop. Kalau saya biasanya bisa sampai satu bulan, itu tidak nonstop pemakaian," tandasnya.

Sementara, ilmu untuk pembuatan biogas tersebut, Urip dapatkan dari sekelompok orang dari Kota Batu yang melakukan sosialisasi mengenai pemanfatan kotoran hewan ternak menjadi biogas. "Awalnya dari orang Batu (Kota Batu Malang, red)  melakukan sosialisasi kepada warga. Di situ kita diajari membuat biogas," kata Urip.

Dengan adanya biogas tersebut, kini sejumlah warga Dusun Dampak, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, mulai meninggalkan gas elpiji dan beralih menggunakan biogas dari kotoran sapi. "Pertama itu orang 10, dan sekarang di Dusun Dampak sendiri sudah ada 30 rumah yang menggunakan biogas. Itupun sangat membantu warga, karena sangat efisien dari segi biaya. Jadi istilahnya, limbah jadi berkah," pungkas Urip.(*)

Pewarta : Adi Rosul
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Jombang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top