Pelajar Dua Sekolah Dapat Penjelasan Produksi Teh, Begini Prosesnya 

Disinilah seluruh proses fabrikasi teh berlangsung, mulai dari pucuk dauh teh sampai menjadi teh kualitas eksport (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)
Disinilah seluruh proses fabrikasi teh berlangsung, mulai dari pucuk dauh teh sampai menjadi teh kualitas eksport (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

JATIMTIMES, LUMAJANG – Teh yang kita mimum setiap hari ternyata melalui proses yang cukup rumit untuk menjadi potongan kecil atau bubuk teh yang siap disedu kemudian kita nikmati. Ketika Dinas Pawisiata dan Kebudayaan Kabupaten Lumajang mengajak pelajar dari dua sekolah di Lumajang melalukan widaya wisata untuk melihat proses produksi teh di Agrowisata Kertowono, produksi teh ternyata harus melalui serangkaian proses yang diawasi secara terliti guna menjaga kualitas teh.

Daun teh dari perkebunan teh di PTPN 12 Kertowono biasanya diterima pihak pabrik pada sore hari. Karena sebagian dari kebun teh ada yang jaraknya mencapai 14 KM dari pabriknya yang ada di desa Gucialit Kecamatan Gucialit Lumajang.

"Setelah hasil petikan teh dari para pekerja ditimbang, kemudian daun daun ini kita layukan ditempat ini, hingga kadar airnya tersisa 70 persen. Jadi kalau awalnya berat daunnya 1 kg, yang kita proses ketahap selanjutnya tinggal 70 persennya saja," kata Hadi Andoko menunjukkan sebuah alat di dalam pabriknya untuk proses pelayuan dauh teh.

Hadi Andoko mengatakan, proses pelayuan ini berlangsungnya antara 7 sampai 8 jam dengan menggunakan kipas dari bawah alat tersebut. Bahkan jika kadar airnya sangat tinggi harus dibantu pemanasan dalam ukuran sedang, sehingga kadar airnya menyusut sekitar 30 persen.

Dari alat pelayuan ini kemudian dauh teh didorong secara mekanis kepada alat penghacur dauh teh. Ada 3 alat dalan proses ini agar dauh teh benar-benar terajang dengan baik. Usai dari alat ini masih juga harus menjalani sejumlah proses lainnya, sampai kemudian harus menjalani proses fermentasi selama 20 menit dengan suhu 130 derajat. Dari tempat inilah kemudian bubuk teh benar-benar siap untuk dipisahkan sesuai dengan kualitasnya.

Pasa sebuah alat yang disebut MES, atau seperti sebuah saringan sesuai dengan besaran bubuk yang diinginkan, bubuk teh ini dipisahkan. Setiaknya ada  6 saringan, yakni saringan nomor 10, 12, 16, 20 dan 24. Dan satu lagi yakni yang lepas dari kelima saringan tersebut, menjadi teh dengan kualitas paling rendah, namun tetap bisa dipasarkan untuk kebutuhan lokal.

"Untuk yang keluar dari saringan nomor 24, 20 dan 16 bisanya kita eksport. Ini memang kualitasnya sangat bagus dan harga sangat mahal. Sedangkan untuk kebutuhan lokal biasanya yang nomor 12 dan 10, dan yang terakhir ini," kata Hadi Andoko.

Yang menarik, walau secara kualitas dan pengawasan indrawi sudah bisa dibedakan jenis teh berdasarkan kualitasnya, ternyata manajemen PTPN 12 Kertowono masih melakukan tes rasa sebelum kemudian ditentukan jenis produk dan kualitasnya. 

"Kalau secara indrawi sudah bisa kita bedakan sejak dari proses mekanis di pabrik, tapi untuk memastikan kita harus tes rasa dulu. Karena yang kita jual adalah rasa. Dan inilah yang diminati oleh negara-negara yang mengimport dari kita," kata Hadi Andoko yang kemudian memperagakan cara tes rasa teh tersebut.

Beberapa pelajar dari dua sekolah yang ikut dalam Widya Wisata ini juga sempat mencicipi teh yang tersedua di meja uji kualitas ini. Tentu saja rasanya agak pahit karena tes tersebut memang disedu tanpa campuran gula. (ADV)

Pewarta : Moch. R. Abdul Fatah
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Lumajang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top