Produksi Tinggi, 12 Ton Patin Dijadikan Fillet

Ikan patin yang sudah difillet di pusat pengolahan ikan Dinas Perikanan. (foto : Joko Pramono/TulungagungTimes)
Ikan patin yang sudah difillet di pusat pengolahan ikan Dinas Perikanan. (foto : Joko Pramono/TulungagungTimes)

JATIMTIMES, TULUNGAGUNG – Sebanyak 12 ton ikan patin segar diolah menjadi ikan fillet setiap hari di pusat pengolahan ikan Dinas Perikanan Kabupaten Tulungagung. Jumlah itu meningkat drastis dibandingkan dengan dua tahun lalu yang kapasitas produksinya hanya sekitar 4 ton sehari.

“Pabrik itu kapasitasnya hanya 4 ton. Dengan perkembangan patin yang sangat menjanjikan, meningkatnya luar biasa,” kata Kepala Dinas Perikanan Kabupate Tulungagung Tatang Suhartono siang tadi kepada awak media.

Tak hanya dagingnya. Bagian limbah dari ikan patin berupa kepala, kulit dan isi perutnya bisa dimanfaatkan. Kulitnya bisa dijadikan kerupuk. Kepala dan isi perut dijadikan tepung ikan dan pakan ternak. Kepala ikan patin sendiri dihargai Rp 1.500-Rp 2.000 per kilogram.

“Memang banyak di limbahnya. 30 persen daging dan sisanya limbah. Hasilnya masih banyak limbahnya,” terang Tatang.

Meningkatnya produksi ikan patin tak lepas dari luasan kolam patin yag dimiliki oleh warga Tulungagung. Dari sektar 5-6 hektare sudah meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan dua tahun lalu. Luasan kolam patin di Tulungagung sudah mencapai 60 hektare yang terebar di beberapa daearah.

Setiap harinya, luasan lahan itu bisa dihasilkan sekitar 56 ton ikan patin segar yang dikirim ke berbagai daerah dan perusahaan. "Setiap hari kami mampu mengirim 56 ton ikan patin segar ke berbagai daerah,” tutur pria ramah itu.

Untuk perusahaan, sudah banyak yang menjalin kemitraan. Termasuk salah satu pabrik pakan ternak terbesar di Indonesia. “Ada Pokphand, Pasuruan, Kenjeran, Sidoarjo. Pokok total kebutuhannya itu (56 ton),” terangnya lebih lanjut.

Untuk menjamin para petani agar mendapat keuntungan, pihaknya menganjurkan para petani untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan. Dengan kemitraan, ada jaminan bahan baku dari perusahaan dan penjualan hasil panen.

“Ada jaminan bahan baku. Petani diberi pinjaman pakan dan hasinya mereka masuk ke pabrik. Harganya juga ditentukan di depan,” ucapnya.

Harga impas atau break event point (BEP) untuk budi daya patin dipatok sebesar Rp 11.000 per kilogram. Pengelola kemitraan membeli hasil panen petani dengan harga Rp 14.500 per kilogram.  Dan pabrik membeli dengan harga Rp 15.500 per kilogram. “Sehingga petani ada margin keuntungan Rp 3.500 per kilogram,” ungkap Tatang. (*)

Pewarta : Joko Pramono
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Raafi Prapandha
Sumber : Tulungagung TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]jatimtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]jatimtimes.com | marketing[at]jatimtimes.com
Top